Ketika sampai pada suatu tempat dekat Badar, Rasulullah pergi lagi dengan untanya sendiri menemui seorang Arab tua. Kepada orang ini beliau menanyakan keberadaan kafilah Quraisy. Dari orang Arab tua itu diketahui, bahwa kafilah Quraisy berada tidak jauh dari tempat itu.

Lalu Rasulullah kembali menemui para sahabat, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Zubair bin’l-Awwam, Sa’d bin Abi Waqqash serta beberapa orang sahabat lainnya. Rasulullah menugaskan mereka untuk mengumpulkan berita-berita dari sebuah tempat di Badar. Hingga mereka kembali dengan membawa dua orang laki-laki asing. Dari kedua orang laki-laki ini Rasulullah mengetahui, bahwa pihak Quraisy kini berada di balik bukit pasir di tepi ujung Wadi.

“Berapa jumlah orang-orang Quraisy itu?” Tanya Rasulullah pada kedua laki-laki itu.
“Kami tidak tahu pasti berapa jumlah mereka” Jawab keduanya.
“Berapa ekor ternak yang mereka potong setiap hari?” Tanya Rasulullah kembali.
“Kadang sehari sembilan ekor, kadang sepuluh ekor ternak yang mereka potong,” jawab mereka.

Dengan demikian Rasulullah dapat menyimpulkan, bahwa jumlah mereka antara 900 sampai 1000 orang. Juga dari kedua laki-laki itu dapat diketahui bahwa bangsawan-bangsawan Quraisy juga ikut serta memperkuat kafilah Quraisy. Mau tidak mau, Rasulullah dan para sahabat harus berhadapan dengan suatu golongan yang jumlahnya tiga kali jauh lebih besar. Mereka harus mengerahkan seluruh semangat, harus mengadakan persiapan mental menghadapi kekerasan itu. Mereka harus siap menunggu suatu pertempuran sengit dan dahsyat, yang takkan dapat dimenangkan kecuali oleh iman yang kuat memenuhi kalbu, iman dan kepercayaan akan adanya kemenangan itu.

Rasulullah mengutus dua orang Muslimin berangkat menuju lembah Badr. Mereka berhenti diatas sebuah bukit tidak jauh dari tempat mata air, dikeluarkannya tempat persediaan airnya lalu mereka dengan air. Tiba-tiba mereka mendengar suara seorang budak perempuan, yang agaknya sedang menagih hutang kepada seorang wanita lainnya, yang lalu dijawab, “Kafilah dagang besok atau lusa akan datang. Pekerjaan akan kuselesaikan dengan mereka dan hutang segera akan kubayar”.

Kedua laki-laki itu kembali. Disampaikannya apa yang telah mereka dengar itu kepada Rasulullah. Tetapi, sementara itu Abu Sufyan sudah mendahului mencari-cari berita. Ia kuatir Muhammad akan sudah lebih dulu ada di jalan itu. Sesampainya di tempat mata air ia bertemu dengan Majdi bin ‘Amr dan menanyakan situasi disitu. Majdi menjawab bahwa ia melihat ada dua orang berhenti di bukit itu sambil ia menunjuk ke tempat dua orang laki-laki Muslim tadi berhenti. Abu Sufyanpun pergi mendatangi tempat perhentian tersebut. Dilihatnya ada kotoran dua ekor unta dan setelah diperiksanya, diketahuinya, bahwa biji kotoran itu berasal dari makanan ternak Yathrib (Madinah).

Cepat-cepat Abu Sufyan kembali menemui teman-temannya dan membatalkan perjalanannya melalui jalan semula. Dengan tergesa-gesa sekali ia memutar haluan melalui jalan pantai laut. Jaraknya dengan Rasulullah sudah jauh, dan dia dapat meloloskan diri.

Hingga keesokan harinya kaum Muslimin masih menantikan kafilah itu akan lewat. Tetapi setelah ada berita-berita bahwa ia sudah lolos dan yang masih ada di dekat mereka sekarang adalah angkatan perang Quraisy, beberapa orang dari kaum muslimin yang tadinya mempunyai harapan penuh akan mendapatkan harta rampasan, terbalik menjadi layu. Beberapa orang diantaranya bertukar pikiran dengan Rasulullah dengan maksud supaya kembali saja ke Madinah, tidak perlu berhadapan dengan mereka yang datang dari Mekkah hendak berperang. Ketika itu turunlah firman Allah:

“Dan ingatlah ketika Allah menjanjikan kepada kalian bahwa salah satu dari dua golongan yang kalian hadapi adalah untuk kalian, sedang kalian menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untuk kalian, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir”. Q:S 8:7

Pada pihak Quraisy juga begitu. Perlu apa mereka berperang, perdagangan mereka sudah selamat? Bukankah lebih baik mereka kembali ke tempat semula, dan membiarkan pihak Islam kembali ke tempat mereka. Abu Sufyan juga berpikir begitu. Itu sebabnya ia mengirim utusan kepada Quraisy mengatakan, “Kalian telah berangkat guna menjaga kafilah dagang, orang-orang serta harta-benda kita. Sekarang kita sudah diselamatkan Tuhan. Kembalilah”. Tidak sedikit dari pihak Quraisy sendiri yang juga mendukung pendapat ini.

Tetapi Abu Jahal ketika mendengar kata-kata ini, tiba-tiba berteriak, “Kita tidak akan kembali sebelum kita sampai di Badar. Kita akan tinggal tiga malam di tempat itu. Kita memotong ternak, kita makan-makan, minum-minum khamr, kita minta biduanita-biduanita bernyanyi. Biar mereka itu mendengar dan mengetahui perjalanan dan persiapan kita. Biar mereka tidak lagi mau menakut-nakuti kita”.

Sebab pada waktu itu Badar merupakan tempat pesta tahunan. Apabila pihak Quraisy menarik diri dari tempat itu setelah perdagangan mereka selamat, bisa jadi akan ditafsirkan oleh orang-orang Arab bahwa mereka takut kepada Muhammad dan para pengikutnya. Ini berarti kekuasaan Muhammad akan makin terasa, ajarannya akan makin tersebar, makin kuat. Apalagi sesudah adanya satuan Abdullah bin Jahsy, terbunuhnya Ibn’l-Hadzrami, dirampasnya dan ditawannya orang-orang Quraisy.

Orang-orang Quraisy jadi ragu-ragu antara mau ikut Abu Jahal karena takut dituduh pengecut, atau kembali saja setelah kafilah perdagangan mereka selamat. Tetapi yang ternyata kemudian kembali pulang hanya Banu Zuhra, setelah mereka mau mendengarkan saran Akhnas bin Syariq, orang yang cukup meraka taati.

Pihak Quraisy yang lain ikut Abu Jahal. Mereka berangkat menuju ke sebuah tempat perhentian, di tempat ini mereka mengadakan persiapan perang, kemudian mengadakan perundingan. Lalu mereka berangkat lagi ke tepi ujung wadi, berlindung di balik sebuah bukit pasir.

Sebaliknya pihak Muslimin, yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan, sudah sepakat akan bertahan terhadap musuh bila kelak diserang. Oleh karena itu mereka punsegera berangkat ke tempat mata air di Badar itu, dan perjalanan ini lebih mudah lagi karena waktu itu hujan turun. Setelah mereka sudah mendekati mata air, Rasulullah berhenti.

Ada seseorang yang bernama Hubab bin Mundhir bin Jamuh, orang yang paling banyak mengenal tempat itu, setelah dilihatnya Rasulullah turun di tempat tersebut, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apa alasan tuan berhenti di tempat ini? Kalau memang ini adalah wahyu Allah, kita takkan maju atau mundur setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini hanya sekedar pendapat tuan sendiri dan sebagai suatu taktik perang?”

“Ini hanya sekedar pendapat saya dan sebagai taktik perang,” jawab Rasulullah. “Wahai Rasulullah,” katanya lagi. “Kalau begitu, tidak tepat kita berhenti di tempat ini. Mari kita pindah sampai ke tempat mata air terdekat dengan mereka, lalu sumur-sumur kering yang dibelakang itu kita timbun. Selanjutnya kita membuat kolam, kita isi sepenuhnya. Barulah kita hadapi mereka berperang. Kita akan mendapat air minum, mereka tidak.”

Melihat saran Hubab yang begitu tepat, Rasulullah dan kaum Muslimin segera pula bersiap-siap dan mengikuti pendapat teman mereka itu, sambil mengatakan kepada para sahabat bahwa beliau juga manusia biasa seperti mereka, dan bahwa suatu pendapat itu dapat dimusyawarahkan bersama-sama. Beliau tidak akan menggunakan pendapat sendiri di luar musyawarah dengan para sahabat. Beliau perlu sekali mendapat masukan-masukan positif dari sesama mereka sendiri.

Selesai kolam itu dibuat, Sa’ad bin Mu’adh mengusulkan, “Wahai Rasulullah” katanya, “Tidakkah kami perlu membuatkan kemah khusus untuk istirahat tuan serta kami siapkan kendaraan tuan. Kemudian barulah kami yang akan menghadapi musuh. Jika Allah memberi kemenangan kepada kita atas musuh kita, itulah yang kita harapkan. Tetapi kalaupun yang terjadi adalah sebaliknya, dengan kendaraan itu tuan dapat menyusul teman-teman yang ada di belakang kita. Wahai Rasulullah, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tinggal di belakang dan cinta mereka kepada Tuanku tidak kurang dari cinta kami ini kepada tuan. Seandainya mereka tahu bahwa tuan akan dihadapkan pada perang, niscaya mereka tidak akan berpisah dari tuan. Mereka benar-benar ikhlas berjuang bersama tuan.”

Rasulullah sangat menghargai dan menerima baik saran Sa’ad itu. Dibangunlah sebuah kemah untuk Rasulullah. Jadi bila nanti kemenangan bukan di tangan Muslimin, Rasulullah takkan jatuh ke tangan musuh dan masih akan dapat bergabung dengan para sahabat di Madinah.

Disini orang perlu berhenti sejenak dengan penuh kekaguman, kagum melihat kesetiaan Muslimin yang begitu dalam, rasa kecintaan mereka yang begitu besar kepada Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam, serta dengan kepercayaan penuh kepada ajarannya. Mereka semua mengetahui, bahwa kekuatan Quraisy jauh lebih besar daripada kekuatan mereka, jumlahnya tiga kali lipat banyaknya. Sungguhpun demikian, mereka sanggup menghadapi, mereka sanggup melawan. Dan mereka inilah yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan dari kafilah dagang Abu Sufyan. Namun begitu bukan karena pengaruh materi itu yang mendorong mereka siap bertempur disisi Rasulullah, memberikan dukungan serta kekuatan. Disisi lain mereka yang juga sangsi, antara harapan akan menang, dan kecemasan akan kalah. Tetapi pikiran mereka selalu hendak melindungi dan menyelamatkan Rasulullah dari tangan musuh. Mereka menyiapkan jalan bagi Rasulullah untuk menghubungi orang-orang yang masih tinggal di Madinah. Suasana yang bagaimana lagi yang lebih patut dikagumi daripada ini?

Selanjutnya pihak Quraisy sudah turun ke medan perang. Mereka mengutus orang yang akan memberikan laporan tentang keadaan kaum Muslimin. Mereka lalu mengetahui, bahwa jumlah kaum Muslimin lebih kurang tiga ratus tiga belas orang, tanpa pasukan pengintai, tanpa bala bantuan. Tetapi mereka adalah orang-orang yang hanya berlindung pada pedang mereka sendiri. Tiada seorang dari mereka akan rela mati terbunuh, sebelum dapat membunuh lawan.

Ketika sampai pada suatu tempat dekat Badar, Rasulullah pergi lagi dengan untanya sendiri menemui seorang Arab tua. Kepada orang ini beliau menanyakan keberadaan kafilah Quraisy. Dari orang Arab tua itu diketahui, bahwa kafilah Quraisy berada tidak jauh dari tempat itu.

Lalu Rasulullah kembali menemui para sahabat, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Zubair bin’l-Awwam, Sa’d bin Abi Waqqash serta beberapa orang sahabat lainnya. Rasulullah menugaskan mereka untuk mengumpulkan berita-berita dari sebuah tempat di Badar. Hingga mereka kembali dengan membawa dua orang laki-laki asing. Dari kedua orang laki-laki ini Rasulullah mengetahui, bahwa pihak Quraisy kini berada di balik bukit pasir di tepi ujung Wadi.

“Berapa jumlah orang-orang Quraisy itu?” Tanya Rasulullah pada kedua laki-laki itu.
“Kami tidak tahu pasti berapa jumlah mereka” Jawab keduanya.
“Berapa ekor ternak yang mereka potong setiap hari?” Tanya Rasulullah kembali.
“Kadang sehari sembilan ekor, kadang sepuluh ekor ternak yang mereka potong,” jawab mereka.

Dengan demikian Rasulullah dapat menyimpulkan, bahwa jumlah mereka antara 900 sampai 1000 orang. Juga dari kedua laki-laki itu dapat diketahui bahwa bangsawan-bangsawan Quraisy juga ikut serta memperkuat kafilah Quraisy. Mau tidak mau, Rasulullah dan para sahabat harus berhadapan dengan suatu golongan yang jumlahnya tiga kali jauh lebih besar. Mereka harus mengerahkan seluruh semangat, harus mengadakan persiapan mental menghadapi kekerasan itu. Mereka harus siap menunggu suatu pertempuran sengit dan dahsyat, yang takkan dapat dimenangkan kecuali oleh iman yang kuat memenuhi kalbu, iman dan kepercayaan akan adanya kemenangan itu.