J’aime Mes Parents
(Aku Cinta Orang Tuaku)

cinta ayah

Komunikasi adalah hal yang paling terpenting. Memang sulit mengkontrol anak setiap waktu. Tetapi, ada beberapa cara yang insya Allah membuat anak anda termotivasi menjadi anak yang sholih/ sholihah.

Apabila anak anda tidak mau melaksanakan sholat wajib, katakan pada mereka, “Coba kamu sentuh api pada lilin yang telah dinyalakan. Apabila lilin itu tidak membuatmu panas, tidak membuat tanganmu terbakar, maka Ibu dan Ayah akan mengijinkan kamu untuk tidak sholat.” Itu sebagai ungkapan bahwa anak anda siap masuk ke dalam nerakanya Allah.

Usahakan sholat berjamaah di rumah, minimal hanya Sholat Subuh. Dimana, saat para orangtua membangunkannya dengan kata- kata manis, contohnya, “Sudah waktunya sholat subuh, nak! Ini kesempatan kamu membuktikan bahwa kamu adalah pemenang yang telah mengalahkan syaithon di kelopak matamu.” Ataupun kata- kata lainnya yang menjadi motivasi, usahakan tidak memakai kekerasan.

Sehabis sholat, usahakan peran bijaksana ayah dan ibu ditegakkan. Berbaliklah bagi ayah yang telah menjadi imam sholat kehadapan anak. Keluarkanlah kata- kata indah sebagai pedoman anak dalam melaksanakan kegiatannya. anak solihYakni dengan nasihat agama, selalu mengingatkan surga dan neraka. Dan juga berusaha mengajaknya untuk selalu menceritakan segala sesuatu yang telah dialami maupun direncanakan anak. Dengarkan dan beri komentar atau tanggapan. Dengan kritik dan saran, itu adalah hal yang membuat anak yakin bahwa mereka selalu diperhatikan.

Mengajak anak anda untuk menentukan amalan andalan yang menjadi bekal nanti di akhirat. Salah satu contohnya adalah membangunkan mereka untuk membiasakan diri sholat dan do’a malam. Ataupun amalan sunah lainnya. Dengan catatan, yang biasa anda lakukan. Kerana itu adalah gambaran atau contoh yang akan dibiasakan oleh anak anda.

Buatlah sebuah forum diskusi kecil dengan dimulai humor. Jadikan suasana rumah ramai dengan celotehan anak anda. Mungkin saja banyak hal yang tidak disukainya di luar sana, namun saat di rumah hal tersebut hilang berubah menjadi rasa cinta terhadap keluarga.

Dereslah Al- Qur’an, sehingga nanti akan terketuk pintu hati anak anda, sehingga ingin lebih baik dari anda. Dengan menderes, itu sebenarnya ajakan anda kepada anak anda.

Jangan membiasakan memanja anak, saat mereka sakit. Buatlah mereka sadar bahwa dunia hanya sementara, dan kita tidak tahu kapan ajal menjeput. Dengan demikian, kita harus selalu siap menghadapi kemungkinan itu. Maka, biasakan anak anda untuk selalu memohon, berdo’a kepada Allah, banyak beramal sholih, khususnya pada kedua orang tua, selalu tetap semangat dalam menjalankan kewajiban sholat lima waktu dan selalu berikhtiar yakni dengan makan yang teratur dan minum obat sesuai dosis yang ditentukan. Berikanlah semangat hidup, namun tidak meremehkan kematian. Satu hal lagi, peluklah mereka sambil membacakan ayat- ayat Allah. Itu membuat mereka akan menangis bahagia, bukan merengek kesakitan.

Selalu memberikan motivasi, jangan mematikan semangat anak anda. Meskipun anda tahu hal itu tidak cocok dengan kepribadiannya, namun dengan motivasi yang kuat dari anda, itu semua akan berubah menjadi lebih baik. Dan apabila benar- benar tidak sesuai, lebih baik anak anda yang menyadari dan mengalaminya. Kita sekedar mengingatkannya saja. Saat dia terjatuh, mulailah kembali peran bijaksana anda. Berikan kembali motivasi, dengan kata- kata indah anda.

Itu semua akan membuat anak anda mengatakan “J’aime Mes Parents” (aku cinta orang tuaku) yang terucap benar- benar dari lubuk hatinya. Dan mereka akan selalu berusaha menjadi anak yang sholih sholihah, terjauh dari zaman yang semakin rusak ini. Jadikan anak anda sebagai Generasi Unggulan di tengah generasi yang telah rusak ini.

(dpdldiikotacimahi)