Deptan Kembangkan Rumah Kompos di 34 Lokasi
Antara – Minggu, 13 Desember

Departemen Pertanian (Deptan) selama 2009 telah mengembangkan rumah kompos di 34 lokasi di seluruh Indonesia untuk mendorong petani meningkatkan penggunaan pupuk organik.

Dirjen Pengelolaan Lahan dan Air (PLA) Deptan Hilman Manan di Jakarta, Minggu, mengatakan, dengan pengembangan rumah kompos tersebut diharapkan mampu menekan ketergantungan petani pada pupuk anorganik atau kimia.

“Dengan rumah kompos ini maka bisa memenuhi kebutuhan pupuk organik dari dan untuk petani tanpa harus membeli dan tergantung pada pabrik,” katanya.

Hilman menyatakan, 34 lokasi kelompok tani atau gabungan kelompok tani yang dijadikan pengembangan rumah kompos di Provinsi Sumatra utara berada di Kabupaten Serdang Bedagai dan Tanah Karo, Sumatra Barat (Dharmasraya) dan di Bengkulu (Lebong).

Selain itu di Banten, berada di Kabupaten Pandeglang dan Lebak, di Jawa Barat meliputi Kabupaten Kuningan, Ciamis, Garut, Cianjur, Bogor dan Bandung Barat, sementara di Jawa Tengah yakni di Purworejo, Brebes, Pati, Wonosobo, Grobogan, Rembang, Salatiga dan Tegal.

Di Yogyakarta, rumah kompos dikembangkan di Kabupaten Bantul, Gunung Kidul dan Kulon Progo, sedangkan di Jawa Timur mencakup di Kabupaten Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Nganjuk, Mojokerto, Jombang dan Trenggalek. Sementara di Sulawesi Selatan berada di Kabupaten Bantaeng, Maros, Soppeng dan Pangkep.

Dikatakannya, satu unit rumah kompos terdiri bangunan seluas 10 x 8 meter persegi dilengkapi dengan alat pengolah pupuk organik, kendaraan roda tiga, ternak sapi sebanyak 35 ekor serta rumah dinas.

Menurut data Ditjen PLA, pada 2009 pengembangan rumah kompos ditargetkan sebanyak 60 unit dengan dana senilai Rp6 miliar, namun hingga kini realisasinya secara fisik baru mencapai 56 persen sedangkan dari pendanaan baru Rp5,37 miliar atau 89,6 persen.

Sementara itu Direktur Pengelolaan Lahan Ditjen PLA Amier Hartono mengatakan, seluruh dana pengembangan rumah kompos saat ini telah ditransfer kepada kelompok-kelompok tani yang wilayahnya dijadikan lokasi program itu.

Dia mengakui salah satu kendala dalam pengembangan rumah kompos yakni masih banyaknya petani yang menjual kotoran sapi dan jerami yang menjadi bahan baku pembuatan kompos ke pabrik pupuk organik.

Saat ini, tambahnya, banyak bermunculan pabrik pupuk granul/organik sehingga membutuhkan bahan baku berupa kotoran hewan dan jerami dalam jumlah besar.

“Kondisi tersebut membuat petani lebih memilih menjual kotoran hewan dan jerami ke pabrik karena langsung mendapatkan uang,” katanya.

Padahal, menurut Dirjen PLA, dengan mengembangkan kompos sendiri maka petani tak perlu lagi membeli pupuk organik sehingga menekan biaya produksi.

Selain itu, katanya, mereka juga turut membantu membuka lapangan kerja di pedesaan serta turut berperan dalam memperbaiki produktivitas lahan pertanian yang saat ini mengalami kerusakan akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

Beberapa hari sebelumnya, Dirjen PLA sempat meresmikan beroperasinya rumah kompos yang dikelola GP3A “Satuhu” di Desa Ponggok Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta.

Hak Cipta © 2009 Yahoo!