TUJUH KIAT PRAKTIS MENDIDIK ANAK

Pendidikan anak merupakan tolok ukur keberhasilan suatu umat. Pembinaan dengan pendidikan akhlak, ketrampilan dan budi pekerti yang luhur merupakan suatu keharusan untuk kelangsungan estafet pembinaan umat. Sehingga perlu adanya kerjasama di antara pakar-pakar yang kompeten terhadap keberhasilan pendidikan anak. Langkah-langkah yang nyata dalam penanaman nilai-nilai Islam sejak dini harus diterapkan dengan baik. Sehubungan dengan ini, Abdurrahman An-Nahlawi yang diterangkan dalam majalah Nuasa Persada mengemukakan tujuh kiat mendidik anak yaitu:

1. Dengan Hiwar (dialog)
Mendidik anak dengan hiwar (dialog) merupakan suatu keharusan bagi orang tua untuk melatih verbal anak. Dengan hiwar akan terjadi komunikasi yang dinamis antara orang tua dengan anak sesuai dengan tingkatan umurnya sehingga mudah dipahami dan berkesan. Selain itu orang tua akan tahu sejauh mana perkembangan pemikiran dan sikap anaknya. Dalam mendidik umatnya, Rosululloh SAW sering menggunakan metode ini.

2. Dengan Kisah
Kisah memiliki fungsi yang sangat penting bagi perkembangan jiwa anak. Suatu kisah bisa menyentuh jiwa dan akan memotivasi anak untuk merubah sikapnya. Apabila kisah yang diceritakan baik, maka kelak ia berusaha menjadi anak baik dan sebaliknya bila kisah yang diceritakan tidak baik, sikap dan perilakunya akan berubah seperti tokoh dalam kisah itu.
Banyak sekali kisah-kisah sejarah, baik kisah para nabi, sahabat atau orang-orang shalih yang bisa dijadikan pelajaran dalam membentuk kepribadian anak. Contohnya banyak anak-anak jadi malas tidak mau berusaha dan maju maunya terima beres karena kisah yang menarik baginya adalah kisah khayalan yang menampilkan pribadi malas tetapi selalu ditolong dan diberi kemudahan.

3. Dengan Perumpamaan
Al-Qur’an dan al-hadist banyak sekali mengemukakan perumpamaan. Jiika Alloh SWT dan Rosul-Nya mengemukakan perumpamaan, secara tersirat berarti orang tua juga harus mendidik anak-anaknya dengan perumpamaan. Sebagai contoh orang tua berkata kepada anaknya, “Bagaimana pendapatmu bila ada anak yang rajin Sholat, giat belajar, giat mengaji dan hormat kepada orang tuanya, apakah anak tersebut akan disukai oleh ayah ibunya?”. Tentu si anak akan berkata, “Tentu anak itu akan disukai oleh ayah dan ibunya”.
Dari ungkapan seperti itu, orang tua bisa melanjutkan arahan terhadap anak-anaknya sampai sang anak betul-betul bisa menyadari, bahwa kalau mau disukai orang tuanya yang harus dilakukan sang anak adalah rajin sholat, giat belajar, rajin mengaji dan hormat kepada orang tua. Begitu seterusnya dengan hal-hal lainnya.

4. Dengan Keteladanan
Orang tua merupakan pribadi yang sering ditiru anak-anaknya. Kalau perilaku orang tua baik, maka anak-anaknya meniru hal-hal yang baik dan bila perilaku orang tuanya buruk, maka biasanya anaknya meniru hal-hal buruk pula. Dengan demikian keteladanan yang baik merupakan salah satu kiat yang harus diterapkan dalam mendidik anak.
Kalau orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh, maka yang harus sholeh duluan adalah orang tuanya. Sebab dari kesholehan mereka, anak-anaknya akan meniru, dan meniru itu sendiri merupakan gharizah (naluri) dari setiap orang.

5. Dengan Latihan dan Pengamalan
Anak yang sholeh bukan hanya anak yang berdoa untuk kedua orang tuanya saja. Anak sholeh adalah anak yang berusaha secara maksimal melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Untuk melaksanakan ajaran Islam, seorang anak harus dilatih sejak dini dalam praktek pelaksanaaan ajaran Islam seperti membaca Al-Qur’an, sholat, puasa, berjilbab bagi yang puteri dan sebagainya.
Tanpa latihan yang dibiasakan , seorang anak akan sulit mengamalkan ajaran Islam, meskipun ia telah memahaminya. Oleh karena itu seorang ibu harus menanamkan kebiasaan yang baik pada anak-anaknya dan melakukan kontrol agar sang anak disiplin dalam melaksanakan Islam.

6. Dengan ‘Ibrah dan Mauizhah
Dari kisah-kisah sejarah, para orang tua bisa mengambil pelajaran untuk anak-anaknya. Begitu pula dengan peristiwa aktual, bahkan dari kehidupan makhluk lain banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Bila orang tua sudah bisa mengambil pelajaran dari suatu kejadian untuk anak-anaknya, selanjutnya pada mereka diberikan mau’izhah (nasehat) yang baik.
Misalnya dengan iman yang kuat, umat Islam yang sedikit mampu mengalahkan orang kafir yang banyak di perang Badar. Contoh lain sesuatu yang berat dan besar bisa dipindahkan bila kita bekerjasama seperti semut-semut bergotong-royong membawa sesuatu dan begitulah seterusnya.
Memberi nasehat tidak selalu harus dengan kata-kata. Melalui kejadian-kejadian tertentu yang mengggugah hati, juga bisa menjadi nasehat, seperti menjenguk orang sakit, ta’ziyah pada orang yang mati, ziarah ke kubur, dan sebagainya.

7. Dengan Targhib dan Tarhib
Targhib adalah janji-janji menyenangkan bila seseorang melakukan kebaikan, sedangkan tarhib adalah ancaman mengerikan bagi orang yang melakukan keburukan. Banyak sekali ayat dan hadist yang mengungkapkan janji dan ancaman. Itu artinya orang tua juga mesti menerapkannya dalam pendidikan anak-anaknya.
Dalam Islam, targhib dan tarhib dipekaitkan dengan persoalan akhirat, yaitu surga dan neraka. Sehingga, sikap yang lahir dari sang anak melalui metode ini menjadi lebih kokoh karena terkait dengan iman kepada Alloh SWT dan hari akhir. Metode ini dimaksudkan untuk menggugah dan mendidik manusia agar memiliki perasaan robbaniyah, seperti khouf (takut) pada Alloh SWT, khusyu’ tawadhu’(merendahkan diri) dihadapan Alloh SWT, mahabbah (cinta) kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya.//
nuansa persada.