CUPLIKAN SEJARAH PENYEMBAHAN DAN PEMUJAAN KEPADA PATUNG BERHALA

Imam Al Hakim meriwayatkan bahwa antara nabi Nuh ‘alaihi salam dan nabi Adam ‘alaihis salam itu ada sepuluh generasi, semuannya di atas satu syariat (agama) yang benar. Lantas mereka kemudian berselisih, maka Alloh mengutus para nabi kepada mereka dengan memberi kabar gembira dan kabar yang menakutkan. Syetan laknatullah telah menghiasi kepada kaum nabi Nuh dengan pemujaan/peribadatan kepada patung-patung. Pertama kali yang dilakukan syetan adalah menghiasi mereka dengan mengagungkan kuburan-kuburan dan nyepi/nepi/bersemedi/bermeditasi di atasnya.

Imam Bukhori meriwayatkan dari shohabat Ibnu Abbas dia berkata tentang patung berhala Wad, Suwaa’, Yaghut’, Ya’uq dan Naser. Bahwa semua ini adalah merupakan nama-nama orang yang sholeh dari kaumnya nabi Nuh. Ketika mereka wafat, syetan membisikkan kepada mereka (kaum Nuh), “Dirikanlah tugu-tugu di tempat duduk mereka dan masing-masing tugu berilah nama dengan nama nama-nama mereka”. Maka kaum Nuh mengerjakan bisikan syetan tersebut, dan asalnya mereka hanya mendirikan tugu saja tidak menyembah/memuja tugu/patung tersebut. Sehingga setelah mati semua generasi yang membangun tugu dan telah hilang ilmu pengetahuan tentang itu, maka disembahlah/dipujalah patung yang didirikan oleh nenek moyang mereka.

Seandainya syetan laknat itu meyuruh mereka sejak awal untuk menyembah/memuja patung yang mereka dirikan niscaya mereka pasti menolak dan tidak akan mentaatinya. Tetapi syetan menyuruh mereka hanya untuk membangun tugu yang bergambar orang-orang yang sholeh, dengan tujuan supaya orang-orang dari generasi berikutnya mau sholat di sekitar patung, kemudian generasi berikutnya diarahkan lagi untuk memuja /menyembah kepada patung-patung tersebut bukan lagi beribadah kepada Alloh di dekat patung.

Selanjutnya ketika Alloh mengutus nabi Nuh ‘alaihi salam kepada kaumnya dan beliau menetap di situ untuk mengajak mereka untuk kembali ke jalan Alloh, kaumnya sombong dan menolak kepada ajakan tersebut sehingga Alloh menghancurkan mereka dengan angin topan.

Sesudah itu, kaum ‘Ad juga menyembah banyak berhala antara lain menyembah berhala Huda, Shuda, dan Shomuda, maka Alloh mengutus nabi Hud ‘alaihi salam untuk mengajak kembali ke jalan Alloh tetapi mereka membangkang sehingga mereka dirusak dihancurkan oleh Alloh dengan angin. Begitu pula dengan kaum Stamud, maka Alloh mengutus kepada nabi Sholeh ‘alaihi salam tetapi mereka juga membangkangnya, maka Alloh menghacurkan mereka pula dengan suara ledakan/dentuman/suara yang sangat keras. Kemudian kaumnya nabi Ibrohim ‘alaihi salam mereka menyembah/memuja matahari, bulan, bintang, patung-patung berhala dan lain-lain. Demikian pula orang-orang Bani Isroil Awalnya mereka meyembah patung anak sapi dan orang-orang berikutnya meyembah kepada Uzeir dan orang-orang Nasrani menyembah nabi Isa Al Masih. Orang-orang Majusi meyembah/memuja api, kaum lain memuja air, dan tiap kaum memuja kepada apa yang syetan menghiasinya sesuai kemampuan akal mereka.

Ini semua terjadi pada umat-umat dahulu kala dimana mereka mempunyai keturunan yang diwarisi dengan peribadatan nenek moyang mereka. Pada akhirnya patung-patung kaum nabi Nuh itu dipindahkan ke negara Arab pada zaman Amr bin Luhayyi Al Khuza’i (mudah-mudahan Alloh memberikan kejelakan kepadanya) seperti yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Ibn Abbas dia berkata, “Adapun patung Wad ada di Dumatiljandal milik Bani Kalb dan patung Suwaa’ milik Bani Hudzail, patung Yaghuts dimiliki oleh Bani Murad, kemudian Bani Ghutoif di Al Jauf/Al Jaun di dekat kampung Saba’, patung Ya’uq milik Bani Hamdan dan adapun patung Nasr itu milik kaum Himyar bagi keluarga Dzikila”.

Imam Bukhori meriwayatkan, Rosululloh SAW bersabda :”Aku melihat Amr bin Luhayyi Al Khuza’i menarik ususnya di dalam neraka dan dia itu pertama kalinya orang yang membiarkan beberapa binatang ternak Saaibah untuk berhala (karena sembuh dari penyakit atau selamat dari peperangan) Dalam lafadz lain dan pertama kali orang yang mengubah agama nabi Ibrohim ‘alaihi salam”.

Imam Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Abi Huroiroh dia berkata, “Aku mendengar Rosululloh SAW bersabda kepada Aktsam bin Al Jauf (Al Jaun) Al Khuza’i, “Wahai Aktsam, aku melihat Amr bin Luhayyi bin Qo’mati bin Khondaf menyeret ususnya di neraka maka aku tidak melihat orang yang paling mirip dengannya dan dia mirip denganmu kecuali kamu.” Aktsam berkata, “Ya Rosululloh, miripnya aku dengannya itu tidak membahayakan kepadaku.” Beliau berkata, “Tidak, karena sesungguhnya kamu itu seorang mukmin dan dia orang kafir, sesungguhnya dia itu pertama kalinya orang yang mengubah agama nabi Ismail ‘alaihi salam maka dialah yang telah membangun patung-patung, dan pertama kalinya orang yang membelah telinga unta Bahirah yang diserahkan untuk berhala, serta membiarkan/membebaskan unta tersebut untuk tidak boleh dinaiki punggungnya, kemudian unta Saaibah yang diserahkan untuk berhala dan unta Ham (unta pemacek/pejantan) yant tidak boleh dinaiki punggungnya dan tidak boleh untuk mengangkut barang karena diserahkan kepada berhala”.

Ibnu Hisyam meriwayatkan, “Sebagian ahli ilmu telah menceritakan kepadaku sesungguhnya Amr bin Luhayyi keluar dari kota Mekah menuju ke kota Syam untuk mengurus keperluannya. Ketika dia sampai di kota Ma’ab bagian tanah Balqo’, di situ bertempat orang-orang Amaliqoh dari anaknya Amliq bin Dawud bin Sam bin Nuh. Amr melihat mereka meyembah patung berhala. Maka dia bertanya kepada mereka, “Apakah patung berhala yang kamu sembah ini?” Mereka menjawab’ “Ini adalah patung-patung yang kami sembah. Kami minta hujan kepada mereka (patung), maka patung-patung tersebut memberi hujan kepada kami. Kami meminta pertolongan kepada patung-patung maka mereka menolong kepada kami”. Amr meminta, “Tidakkah kalian memberi satu patung kepadaku yang akan kubawa ke tanah Arab agar mereka beribadah kepada patung tersebut?” Maka mereka memberi satu patung kepada Amr bin Luhayyi yang bernama patung Hubal. Maka datanglah Amr bin Luhayyi dengan patungnya ke Mekah dan menempatkan patungnya tersebut di Mekah dan dia menyuruh bangsa Arab supaya menyembah kepada patung Hubal dan mengagungkannya. Imam Ibnu Ishaq menceritakan, “Bangsa Arab juga menjadikan patung Isaf dan Nailah di atas sumur Zamzam dan menyembelih binatang ternak untuk mereka berdua. Isaf dan Nailah itu seorang laki-laki dan seorang perempuan dari Jurhum yang berzina di dalam Ka’bah. Oleh Alloh mereka dijadikan dua bongkah batu. Orang Arab juga meletakkan 360 patung di sekitar kabah.

Imam Ibnu Ishaq meriwayatkan, “Di tanah Khaulan ada sebuah patung yang diberi nama Ammu-anas, penduduknya membagi harta mereka berupa binatang ternak dan hasil pertanian mereka kepada patung Ammu-anas dan kepada Alloh Ta’ala. Hak-hak Alloh (menurut persangkaan mereka) kalau masuk ke dalam haknya patung Ammu-anas maka dibiarkan saja, tetapi kalau hak patung Ammu-anas masuk ke dalam haknya Alloh maka mereka mengembalikannya kepada patung Ammu-anas”. Dalam kasus ini Alloh menurunkan ayat dalam Surat Al An-am ayat 136 :

وَجَعَلُوا لِلَّهِ مِمَّا ذَرَأَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْأَنْعَامِ نَصِيبًا فَقَالُوا هَذَا لِلَّهِ بِزَعْمِهِمْ وَهَذَا لِشُرَكَائِنَا فَمَا كَانَ لِشُرَكَائِهِمْ فَلَا يَصِلُ إِلَى اللَّهِ وَمَا كَانَ لِلَّهِ فَهُوَ يَصِلُ إِلَى شُرَكَائِهِمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ*

“Mereka telah menjadikan bagi Alloh sebagian dari apa-apa yang mereka bikin, suatu pembagian hasil pertanian dan binatang ternak. Maka mereka berkata, “Ini untuk Alloh (dengan persangkaan mereka-yang bathil) dan ini untuk patung-patung berhala kami. Apa-apa yang menjadi milik patung berhala mereka tidak sampai kepada Alloh dan apa-apa yang menjadi milik Alloh maka ia akan sampai kepada patung berhala mereka. Alangkah jeleknya apa-apa yang mereka hukumi.

Ibnu Ishaaq juga meriwayatkan bahwa Bani Milkan bin Kinanah mempunyai sebuah patung pemujaan yang diberi nama Sa’ad. Ia itu sebongkah batu yang ada di sebuah tanah kosong yang luas dan lengang. Pada suatu saat ada seorang dari Bani Milkan membawa seekor onta yang akan diwaqafkan (diserahkan) kepada patung Sa’ad agar dia mendapatkan kebarokahan daripadanya. Tatkala unta itu melihat tempat penyembelihan binatang yang dikorbankan untuk berhala penuh berlumuran darah, tiba-tiba onta yang dibawanya ditu lari tunggang langgang. Maka marahlan laki-laki tersebut, sambil marah-marah patung berhala Sa’ad itu dilempari dengan batu dia berdoa, “Mudah-mudahan Alloh tidak memberi barokah kepadamu, karena kamu telah membikin lari ontaku. Dia pun berdendang :

Aku telah datang kepada berhala Sa’ad agar menghimpun persatuan kami, Tetapi berhala Sa’ad telah memporak-porandaknnya, maka bukanlah aku termasuk penyembah berhala Sa’ad Bukankah berhala Sa’ad tiada lain hanyalah sebongkah batu di suatu tanah tinggi, yang dia tidak bisa memanggil orang yang sesat maupun orang yang benar (mendapat petunjuk).

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa orang-orang Quraisy dan Bani Kinanah memilik berhala Uzza yang berada di tanah Nakhlah, di antara kota Mekah dan Tho’if. Berhala tersebut berupa sebuah pohon, salah satu tiga pohon kelampis yang disitu dibangun sebuah bangunan rumah yang diberi tabir oleh orang-orang Bani Syaiban termasuk dari Bani Sulaim ahli sumpahnya Abu Tolib. Uzza ini adalah berhala yang diagungkan dan dimuliakan oleh orang-orang Quraisy. Maka dari itu ketika Abu Sofyan merasa menang dalam perang Uhud dia berkata, “Kami memiliki berhala Uzza dan kamu tidak memiliki berhala Uzza (yang memberi kemenangan kepada kami)”. Ketika itu Rosululloh SAW bersabda, “Jawablah :Alloh adalah Tuhan kami tidak ada Tuhan bagimu”.

Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Mirdawaih meriwayatkan ketika Fathu Makah, Rosululloh mengutus Khalid bin Walid untuk menghancurkan berhala Uzza, maka ditebanglah tiga pohon kelampis dan dibumiratakan bangunan rumahnya. Setelah itu Khalid bin Walid pulang melapor kepada Rosululloh SAW, tetapi Rosul bersabda, “Wahai Khalid kembalilah, sesungguhnya kamu belum berbuat apa-apa”. Maka Kholid bin Walid kembali ke Nakhlah. Ketika dia sampai di tempat tersebut, Kholid melihat orang-orang yang naik ke gunung mencari berhala Uzza sambil berteriak, “Wahai Uzza! Wahai Uzza!”. Kholid bin Walid pun mendekatinya dan dia melihat seorang wanita yang telanjang bulat, terurai rambutnya mengambil debu dengan kedua telapak tangannya, disawurkan ke atas kepalanya. Ketika itu Kholid bin Walid tanggap bahwa perempuan itulah yang dimaksud Rosululloh, maka dihunuslah pedang Kholid bin Walid dan ditebaskanlah ke leher wanita itu sampai mati. Kemudian Kholid bin Walid pulang melapor kepada Nabi. Nabi bersabda, “Dia itulah Uzza”. (Jadi Uzza adalah jin yang bertempat di tempat yang dipuja-puja tersebut).

Berhala Laata adalah berhala milik Bani Tsakif di Tho’if dan yang membuat tabir untuknya adalah orang Bani Mu’tab dari Tsakif. Imam Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa berhala Laata adalah sebongkah batu putih besar yang diukir. Di atasnya dibangun sebuah rumah yang ditutup dengan tabir. Di sekitarnya terdapat halaman yang luas untuk kepentinganpemujaan bagi orang-orang Tsakif, utamanya ketika mereka akanb berangkat perang. Mereka memuliakannya dan meminta agar diberi keselamatan dan kemenangan. Mereka sangat membanggakan Laata dihadapan musuhnya. Ibnu Hisyam berkata, Rosululloh mengutus sahabat Mughiroh bin Syu’bah, maka Mughiroh pun menghancurkan berhala Laata dan membakarnya.

Berhala Manaat adalah milik orang-orang Aus dan Khozroj dan orang-orang yang seagama dengan mereka dari orang-orang Yatsrib (Madinah). Tempatnya di pantai Musyallal di tanah Qudaid, tempat di antara Mekah dan Madinah. Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Rosululloh mengutus Ali bin Abi Tolib untuk menghacurkannya pada saat Fathu Makkah. Tiga berhala inilah yang disebut dalam Al Qur’an surat An Najm ayat 19-20 :

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى* وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى*

“Adakah kalian melihat berhala Laata dan Uzza dan berhala Manaat berhala lain yang ketiga itu. (mempunyai kekuasaan atau kemampuan?)

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Amr bin Jamuh seorang kepala desa dari bangsawan Bani Salimah adalah orang yang paling dihormati oleh rakyatnya. Dia mempunyai sebuah patung yang terbuat dari kayu diberi nama Manaat. Ketika ada dua orang Bani Salimah masukn Islam, yaitu Mu’ad bin Jabal dan anak Amr bin Jamuh sendiri yaitu Mu’ad bin Amr, keduanya bersama yang lain termasuk orang yang hadir dalam Bai’at Aqobah. Mereka mengambil patung Amr bin Jamuh pada waktu malam dan membawanya ke jumbleng (lubang galian yang penuh dengan kotoran manusia). Kemudian patung tersebut dimasukkan ke dalam jumbleng dengan kepala di bawah. Pagi harinya Amr bin Jamuh berkata, “Celakalah orang-orang yang memusuhi tuhan-tuhan kami malam ini”. Kemudian ia mencarinya dan menemukan patungnya berlepotan kotoran manusia dalam lubang tersebut. Maka diambilnya patung tersebut, dibersihkan dan disucikan kemudian dia berkata, “Demi Alloh jika aku mengetahui orang yang memperlakukan kamu begini, pasti kuhinakan dia.’ Pada malam berikutnya mereka melakukan hal sepeti itu seperti malam sebelumnya. Dan Amr bin Jamuh melakukan hal yang dilakukan sebelumnya juga, begitu terus keadaannya sampai berkali-kali. Akhirnya Amr bin Jamuh jengkel, setelah patung berhala ditempatkan kembali di tempat semula, ia pun datang dengan membawa pedang dan mengalungkan pedang tersebut ke berhalanya. Sambil mengatakan, “Demi Alloh aku tidak mengerti orang yang memperlakukan kamu demikian rupa. Jika memang ada kebaikan di dalam dirimu, maka cegahlah orang yang akan memperlakukan kamu dengan pedang ini.’ Ketika malam tiba, mereka mengambil pedang tersebut. Kemudian mereka mengambil bangkai anjing diikatkan pada berhala tersebut denga tali, dan keduanya dimasukan ke dalam sumur yang penuh dengan kotoran manusia. Ketika itu barulah sadar Amr bin Jamuh sadar akan keadaannya (kekeliruaannya). Maka ketika seorang penduduk Bani Salimah yang sudah masuk Islam amar ma’ruf kepadanya, langsung dia insaf, masuk Islam dan baik dalam Islamnya.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa bangsa Arab disamping telah menjadikan kabah sebagai sentra kegiatan ibadah, mereka juga memilih Thoghut (patung berhala) yang ditempatkan di suatu tempat, mereka menghormatinya seperti mereka menghormati kabah. Mereka menutupinya dengan selambu seperti layaknya kabah. Mereka menyembelih hewan kurban untuk berhala mereka seperti mereka lakukan di kabah. Mereka mengelilinginya seperti mereka thowaf di kabah. Bahkan di rumah masing-masing mereka mempunyai patung yang disembah. Jika mereka bepergian mereka menggantungkan ijin dari berhala mereka dengan cara mengusapnya. Diantara mereka kalau bepergian lantas mampir di suatu tempat, mereka mengambil emapt buah batu, batu yang paling bagus dipilih untuk disembah dan tiga lainnya dipakai untuk tungku masak.

Abu Roja’ Al Uthoridy berkata, “Pada zaman jahiliyah kami menyembah batu, ketika kami menemukan batu yang lebih baik maka dibuanglah batu yang disembah sebelumnya. Jika kami tidak menemukan batu untuk disembah, maka kami mengumpulkan secawuk debu kemudian kami memerah susu kambing kami di atas secawuk tumpukan debu tersebut lantas kami menyembah dan thowaf mengelilinginya. Kami menyembah batu putih cukup lama tapi akhirnya kami buang juga”.

Abu Utsman An Nahdi berkata, “Kami pada zaman jahiliyah menyembah batu, tiba-tiba kami mendengar seseorang memanggil, “Wahai ahli rumah, sesungguhnya tuhanmu telah rusak, maka carilah tuhan lagi”. Maka kami naik turun gunung untuk mencarinya. Tiba-tiba kami mendengar orang memanggil, “Sesungguhnya kami telah menemukan tuhan kamu dan yang mirip dengannya.” Tiba-tiba kami melihat sebongkah batu, maka kami menyembelih unta untuk batu berhala tersebut.

Amr bin Abasah berkata, “Dulu kami menyembah batu, jika kami mampir di suatu desa yang tidak ada tuhan (berhala) di dalamnya maka salah seorang dari kami keluar dan kembali dengan membawa empat buah batu. Tiga untuk memasak dan satu yang terbaik untuk disembah. Tapi kalau menemukan batu yang lebih baik lagi, maka batu yang pertama dibuang diganti dengan batu yang lebih baik. Setelah itu ditinggalkan lagi dan mencari batu lainnya yang lebih baik lagi begitu seterusnya. Ketika Fathu Makkah dijumpai ada 360 berhala di sekeliling kabah, oleh Rosululloh mata dan wajah berhala ditusuk dengan anak panah, ssambil bersabda : جاء الحق وزهق البطل maka rontoklah berhala-berhala tersebut. Kemudian Nabi memerintah kepada para sahabat supaya berhala-berhala tersebut dikeluarkan dari Masjidil Haram dan dibakar.

Nukilan sejarah pergeseran keimanan dari ajaran agama yang haq menjadi perbuatan penyembahan berhala ini merupakan upadaya syetan dalam menyesatkan manusia sehingga terjerumus ke dalam perbuatan syirik (menyekutukan Alloh). Syetan telah berhasil mempermainkan orang musyrik dengan tipu dayanya dalam peribadatannya kepada berhala dengan bermacam-macam sebab antara lain :

– Mereka memuja berhala karena mengagungkan dam memuliakan orang-orang yang sudah mati melebihi dari yang dibenarkan oleh Alloh dan RosulNya. Seperti kaum nabi Nuh, mereka menyembah kepada berhala Wad, Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Naser yang di masa-masa hidupnya mereka adalah orang-orang sholeh, terpandang di masyarakat, terhormat dan mempunyai kelebihan dibandingkan orang pada umumnya. Setelah mereka mati, syetan merekayasa agar supaya pada akhirnya mereka dijadikan tugu, patung yang disembah.

Syetan tidak tergesa-gesa dalam mencapai sasaran yang diinginkan, syetan bersabar sampai bertahun-tahun bahkan berabad-abad sehingga kesempatan itu datang ketika mereka berhasil mengarahkan manusia, senang beribadah kepada Alloh di dekat tugu-tugu berhala, tempat yang sepi, tempat yang dikeramatkan. Tempat-tempat tersebut secara perlahan telah dijadikan tempat yang suci menyamai atau melebihi masjid-masjid sebagai tempat beribadah yang sebenarnya. Akhirnya manusia benar-benar ta’dzim, menghormat, mengagungkan, memuliakan tempat yang dikeramatkan menjadi tempat-tempat yang dianggap bisa mempercepat tercapainya keinginan mereka. Mereka menjadikan orang-orang yang telah mati atau jin yang menunggui tempat yang dikeramatkan itu menjadi wasilah (perantara), terkabulnya doa mereka seolah-olah orang-orang yang telah mati atau jin itulah yang berjasa besar terhadap terkabulnya doa. Celakanya mereka tidak merasa dengan perbuatannya yang seperti itu, mereka telah beribadah kepada berhala yang sangat dilarang oleh Alloh SWT.
– Datangnya seseorang di tempat-tempat yang dianggap keramat, seperti ke kuburan-kuburan, pesarean-pesarean, penembahan-penembahan, ke tampat-tempat yang ada pohon-pohonan, batu-batuan atau sumur tua, sumber mata air dan lain sebagainya yang dianggap keramat dengan rasa ta’dzim, hormat, memuliakan, mengagungkan, khusyu’, tawadhu’, tadhorru’, perasaan pasrah, perasaan berlindung, minta tolong, minta keselamatan, berharap belas kasihnya orang yang mati disitu atau eyang-eyang sepuh yang menunggu di tempat tersebut. Apalagi lebih percaya dengan omongannya juru kunci yang kemasukan jin yang mereka mengaku roh-roh/arwah-arwah orang-orang yang diagungkan. Walaupun mengaku arwahnya orang-orang yang sholeh, arwahnya para Wali bahkan para Nabi sekalipun itu berarti mereka telah beribadah kepada orang-orang mati, jin dan batu atau kayu yamg dianggap keramat.
– Ada lagi orang-orang yang memburu harta terpendam. Mereka diajak nyepi/nepi, bersemedi atau bermeditasi di tempat-tempat yang dikeramatkan. Kadang-kadang mereka diperlihatkan tumpukan uang atau emas murni atau benda-benda berharga lainnya. Kemudian mereka diberi janji, bisa mengambil harta tersebut dengan syarat supaya menyembelih kambing kendit atau ayam cemani di tempat keramat tersebut atau bisa diambil dengan pusaka-pusaka sakti yang harus dicari lebih dahulu atau dengan minyak wangi tertentu agar orang yang menjadi mediator bisa mengambilnya. Ini semua kebohongan syetan untuk menipu manusia. Tumpukan uang atau emas murni atau benda berharga lainnya yang dilihat mereka hanyalah merupakan sihir syetan, tipu daya syetan agar seseorang semakin jauh terjerumus ke alam mistik dan semakin berat melepas kepercayaan syiriknya. Karena sebenarnya syarat-syarat yang dibuat oleh syetan intinya hanya untuk memperpanjang penipuan syetan kepada manusia. Ada juga dari emas yang kelihatannya bertumpuk-tumpuk hanya diberikan satu lempeng satu kilogram emas, tetapi dengan syarat jangan dijual karena kalau dijual akan kembali menjadi besi biasa atau jadi batu atau bentuk lainnya dari barang yang tidak berharga. Memang sebenarnyalah barang tersebut aslinya bukan emas, karena sihir syetan itu saja jadi kelihatan emas beneran, padahal bukan.

Kadang-kadang penyembah kuburan dan tempat yang dikeramatkan lainnya dibikin terkagum-kagum oleh juru kunci yang kesurupan dengan mengatakan peristiwa-peristiwa penting yang akan terjadi di masa mendatang, atau kehadiran para pendatang ditebak bahwa kamu ini masih cucuku karena kamu masih keturunan si anu, si anu. Atau ditebak bahwa di rumah bahwa di rumah kamu ada batu ini batu itu, pohon ini pohon itu, yang kesemuanya itu hanya auntuk meyakinkan kepada para pendatang bahwa juru kunci yang menunggu di tempat itu adalah orang yang waskito, weruh sak durunge winarah agar para pendatang menjadi semakin lebih yakin kehebatan tempat keramat tersebut. Kenapa juru kunci kadang-kadamg bisa menceritakan keadaan rumah tangga, atau yang ada pada lingkungan keluarganya, atau kadang bisa menceritakan apa-apa yang belum terjadi dan lain sebagainya? Ini semua adalah permainan syetan dan jin untuk meyesatkan manusia. Tiap-tiap orang paling sedikit diikuti satu jin (Jin Qorin). Jin-jin yang mengikuti para pendatang ini memberi tahu keadaan rumah tangga atau lingkungan keluarga para pendatang kepada jin yang mengikuti juru kunci. Kemudian jin yang mengikuti uru kunci memberi tahu atau membisiki si juru kuncia. Juru kunci akhirnya bisa menceritakan apa-apa yang ada pada pendatang dan para pendatang kagum dengan omongan si juru kunci.

Sebagai seorang mukmin tidak perlu heran, tidak perlu kagum, dan tidak perlu terperosok ke dalam tipu daya syetan ini. Syetan kadang-kadang mendapat berita benar dari langit tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, lalu berita itu dihiasi dengan seratus kebohongan. Ratusan kebohongan syetan dipercaya semuanya padahal yang benar cuma satu. Inilah sebagian keadaan orang-orang yang menyembah tempat-tempat yang dikeramatkan yang apabila mereka dikatakan telah menyembah tempat yang dikeramatkan, mereka menolak dan mengatakan, “Kami tidak menyembah mereka, tetapi mereka yang telah mati hanya kami jadikan perantara untuk mendekatkan diri kami kepada Alloh”. Ini seperti perkataan orang-orang yang musyrik zaman jahiliyah dulu. Firman Alloh dalam surat Azzumar ayat 3 :
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ*

Ketahuilah bahwa milik Allohlah agama yang murni itu dan orang-orang yang menjadikan selain Alloh menjadi beberapa kekasih/tuhan-tuhan (mereka berkata), “ Kami tidak menyembah (beribadah) kepada mereka kecuali mereka 9orang-orang yang telah mati) itu kami jadikan perantara untuk mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.”

Ayat di atas, Alloh menghukumi orang yang menjadikan orang yang telah mati menjdai perantara berarti telah menjadikan kepada selaian Alloh menjadi kekasih (tuhan) berarti mereka telah melakukan syirik akbar. Begitu pula orang-orang yang telah menjadikan kuburan para nabi dan prang-orang sholeh menjdai tempat beribadah (masjid), maka mereka adalah orang-orang yang dilaknat oleh Alloh dan menjadi sejelek-jelek manusia di sisi Alloh.

Imam Bukhori meriwayatkan ketika Rosululloh mendekati wafatnya maka beliau menutupi wajahnya dengan selimut dan ketika beliau merasa sangat bersedih beliau membuka selimut yang menutupi wajahnya, begitu berkali-laki lantas beliau bersabda :
لعنة الله على اليهود والنصارى اتخذوا قبور انبيائهم مساحد يحذر ما صنعوا* رواه البخارى
Laknat Alloh semoga tetap atas orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka telah menjadikan kuburan para nabi mereka menjadi tempat bersujud (beribadah). Nabi memperingatkan apa yang telah mereka perbuat (supaya tidak terjadi pada umatnya).

Imam Muslim juga meriwayatkan bahwa sahabat Jundab mendengar Nabi 5 hari sebelum wafat beliau berkata :

الا وان من كان قبلكم كانو يتخذون قبور انبيائهم وصاليحهم مساجد الا فلا تتخذوا القبور مساجد اني انهاكم عن ذالك* رواه مسلم عن جندب
Ketahuilah sesungguhnya oang-orang sebelum kalian, mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka dan kuburan orang-orang yang sholeh di antara mereka menjadi masjid-masjid (tempat ibadah). Ketahuilah janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan menjadi masjid-masjid (tempat beribadah). Sesungguhnya aku (Nabi) melarang kalian dari perbuatan itu.

عن ابن مسعود رضيالله عنه مرفعا ان من شرار اناس من تدركهم الساعة وهم احياء والذين يتخذون القبور مساجد* رواه ابو حاتم وابن حبان
Dari Ibnu Mas’ud hadits marfu’, “Sesungguhnya sejelk-jeleknya manusia adalah orang-orang yang menjumpai hari kiamat sedangkan mereka masih hidup dan orang-orang yang menjadikan kuburan menjadi masjid (tempat beribadah).”

لا تجعلوا بيوتكم قبورا ولا تجعلوا قبري عيدا وصلوا علي فان صلاتكم تبلغني حيث كنتم* رواه اب داود عن اب هريرة
Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian menjadi kuburan, dan janganlah kalian menjadikan kuburanku (sebagai tempat) perayaan. Dan bacalah sholawat kepadaku, karena doa sholawat kalian itu akan sampai kepadaku dimana saja kalian berada.

اللهم لا تجعل قبري وثنا يعبد اشتد غضب الله على قوم اتخذوا قبور انبيائه مساجد* رواه مالك في الموطاء عن عطاء بن يسار
Ya Alloh janganlah Engkau menjadikan kuburanku (Nabi) menjadi berhala yang disembah, amat sangat kemurkaan Alloh kepada kaum yang menjadikan kubur nabinya sebagai masjid-masjid (tempat-tempat ibadah)
cai2004//.