Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia sudah saatnya Indonesia tampil di garda terdepan untuk membangkitkan lagi peradabaan Islam. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan hal ini dalam sambutan peringatan Isra` Mi`raj 1431 H/2010 di Istana Negara, Jumat (9/7) malam
“Kita memiliki potensi yang besar untuk mengembalikan kejayaan dan keagungan Islam yang telah menghadirkan tatanan peradabaan dunia yang damai dan harmonis,” ujar SBY.
Presiden mengatakan bahwa negara-negara Islam di dunia juga meletakan harapan pada bangsa Indonesia sebagai salah satu pemimpin kebangkitan kembali Islam di abad ke-21 ini. Menurut SBY, peradabaan Islam sesungguhnya adalah bagian dari puncak peradabaan manusia di dunia, peradabaan yang dapat tumbuh berdampingan dengan peradabaan umat lainnya dengan damai.
Ajaran Islam juga membawa tata nilai dan budaya yang berorientasi pada perilaku dan cara pandang yang kreatif, inovatif, dan berkeadabaan. “Tata nilai dan budaya itulah yang membentuk tatanan masyarakat yang maju dan berpengetahuan. Tatanan masyarakat seperti itu pula yang telah melahirkan puncak keemasan, kejayaan Islam sejak awal masa ke tujuh Masehi yang dikenal dengan nama the golden age of Islamic history,” SBY menjelaskan.
Presiden mengatakan bahwa tatanan seperti itulah yang harus diwariskan dan dikembangkan dewasa ini. “Sebaliknya nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran agama dan norma-norma kehidupan bangsa kita yang mulia harus kita jauhi,” terang SBY.
Sebagai Kepala Negara, SBY mengajak orang tua benar-benar membimbing putera-puterinya agar tidak terulang tragedi akhlak yang melanda sebagian masyarakat kita, seperti perilaku yang sangat menyimpang dan menodai nilai-nilai agama dan kesusilaan. “Para guru agar benar-benar mendidik murid-muridnya dengan norma nilai dan budi pekerti yang luhur, dan para ulama serta pemimpin agama benar-benar mengarahkan umatnya dengan moral dan akhlak yang baik,” Presiden SBY menegaskan.
Namum manakala perbuatan tidak terpuji dan merusak nilai-nilai moral agama dan akhlak, dan melanggar hukum dan perundang-undangan, maka Presiden berharap para penegak hukum untuk dapat menjalankan tugasnya secara tegas dan penuh tanggung jawab. “Jangan biarkan perilaku buruk dan merusak nilali-nilai agama, moral dan akhlak terus berkembang di tengah masyarakat kita,” SBY menambahkan.
SBY menjelaskan bahwa di negeri ini tidak ada kebebasan dan hak yang tanpa batas. “Kebebasan, meskipun mengatasnamakan demokrasi dan HAM, juga ada tata krama dan batasannya sebagaimana yang tercantum dalam konstitusi kita. Ini berlaku untuk siapapun bagi yang memegang hak dan kebebasan, ini juga berlaku kepada para pelaku demokrasi dinegeri ini,” Kepala Negara mengingatkan.
Presiden menjelaskan, bilamana negara dan para penegak hukum menjalankan tugasnya dengan baik maka hilangkanlah pikiran dan tuduhan bahwa seolah-olah hak dan kebebasan mulai dibatasi. “Hilangkan pula anggapan bahwa negara terlalu turut campur tangan dalam kehidupan individu atau ranah kehidupan masyarakat,” ujar Presiden.
“Justru sebaliknya, pemerintah dan masyarakat ingin menyelamatkan akhlak, moral, dan budi pekerti masyarakat bangsa kita,” lanjut SBY.
Diakhir sambutanya Presiden SBY mengajak seluruh masyarakat untuk mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia dan membangun tatanan masyarakat yang berilmu. (www.kemenag.go.id)