Apa yang bisa dilakukan di bulan puasa ini? Rasanya ini pertanyaan konyol yang tak perlu dijawab. Namun, mari kita simak fakta berikut ini dan cobalah berhenti melakukannya.
Apabila ada insan atau lembaga Indonesia melakukan kesalahan, segera mereka dihujani cemooh bodoh, tidak becus, tidak profesional, buta manajemen, tidak berjiwa entrepreneur, terbelakang, primitif dan aneka ragam caci maki lain. Pendek kata, kita gemar mencemooh bangsa kita sendiri sebagai bangsa serba-tidak bisa di samping pemalas dan korup. Sambil mencemooh kita juga gemar membandingkan diri dengan bangsa lain, terutama bangsa negara-negara maju yang selalu dianggap pintar, rajin, tekun, terampil, profesional, unggul manajemen, berjiwa entrepreneur, progresif, modern, visioner, dan aneka ragam pujian setinggi langit ketujuh.
Mungkin kita tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa gedung kebanggaan Kota Sydney, Sydney Opera House (SOH), dibangun dengan biaya berlipat ganda melebihi anggaran yang semula dirancang pemda setempat. Eksterior SOH memang memesona dan layak dinobatkan sebagai landmark Kota Sydney, namun interiornya tidak layak dipuji, apalagi dipesonai. Di samping terkesan asal jadi, akustik hall utama SOH merupakan salah satu yang terburuk di dunia karena secara akustik tidak layak untuk pergelaran opera, padahal namanya Sydney Opera House! Di samping itu letak lokasi parkir mobilnya tidak manusiawi karena terlalu jauh dari gedung SOH itu sendiri. Belum terhitung berapa korban jiwa berjatuhan pada saat membangun konstruksi atap SOH nan spektakuler tapi sangat berbahaya bagi keamanan bahkan nyawa para pekerja bangunan. Pendek kata, apabila bangunan spektakuler bermasalah itu dibangun di Jakarta, maka pasti pembangunnya, termasuk arsiteknya, habis dicaci maki sebagai tidak becus, tidak profesional, berbahaya, bahkan korup akibat anggaran terbukti membengkak seperti gajah obesitas sedang menderita sembelit dan beri-beri!

Mumpung bulan puasa berhentilah mencaci – maki. Rasulalloh SAW bersabda: “Barangsiapa tidak dapat meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa) maka Alloh tidak membutuhkan lapar dan hausnya.” (HR. Bukhari).

Sekarang lagi jaman IT. Ponsel cerdas itu menjadi booming di dunia, termasuk di Indonesia. Apalagi setelah beberapa tokoh dunia dan seleb memakainya juga. Kelebihan menggunakan gadget ini dibandingkan dengan ponsel biasa memang beragam, misalnya saja layanan push mail, menerima dan membalas email yang masuk pada saat itu juga. Atau mengambil foto dan mengirimkannya ke handai taulan di luar negeri dalam sekejap. Lalu ada pula fasilitas chatting, browsing, hingga fasilitas online berbagai situs jejaring sosial. Kedekatan seseorang di dunia maya seakan-akan tidak lagi terpisahkan oleh ruang dan waktu. Tak aneh bila kemudian muncul istilah, ‘mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.’

Namun memakai gadget ini bukan tak ada kekurangannya sama sekali. Ketika seseorang berasyik masyuk dengan dirinya dan dunianya sendiri, serta tidak memperdulikan lingkungan sekitar, apalagi menjadikannya sebagai ketergantungan yang sangat, maka menurut anak zaman sekarang dikatakan terkena ‘gejala autis’. Tapi bukankah merujuk peribahasa, ’man behind the gun,’ bahwa baik-buruknya penggunaan teknologi tergantung si pemakainya? Betul. Bila pemakainya memakai dengan bijak, tentu tak masalah. Sebaliknya pun demikian.

Tapi nyatanya memang, menurut penelitian, ketergantungan akan gadget menyebabkan seseorang menjadi tak fokus. Bahkan para uskup senior di Liverpool, Inggris menantang umatnya untuk berpuasa teknologi selama 40 hari. Mereka mendorong masing-masing orang untuk memangkas penggunaan karbon dengan tidak memakai sejumlah gadget. Tingkat ketergantungan pemakai gadget memang sungguh luar biasa. Hingga muncul istilah, ’it is heaven for business owners, but hell for employees’.

Gadget dibuat dengan tujuan membantu si pemakainya. Untuk menjadikan urusan berjalan dengan efektif dan efisien. Ambil satu contoh, misalnya saja ketika diadakan rapat penting. Saat dalam rapat membutuhkan komunikasi rahasia di antara peserta rapat, tentu saja cara yang cerdas dengan menggunakan gadget yang tersedia. Teknologi yang awalnya dirancang untuk membantu kehidupan manusia, malah justeru membuat kita semakin menjauh satu dengan lainnya. Menjauh dari orang-orang yang kita kasihi, dan menjauh pula dari Tuhan yang sesungguhnya dekat dengan kita.

Dengarlah apa yang dikatakan Eric Schmidt, CEO Google, dalam pidatonya di University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 18 Mei 2009 lalu dihadapan enam ribu wisudawan. Schmidt berujar, “Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu.” Schmidt mengatakan demikian setelah melihat banyaknya kaum muda yang hanya terpaku pada dunia virtual di internet. Seakan tak peduli untuk berelasi dengan orang lain. Bagaimana dengan kita? Mumpung di bulan puasa, berhentilah memainkan jari – jemari di atas gadget mungil atau keyboard itu. Mainkanlah jari membuka lembaran – lembaran kitab suci.

Rasulalloh SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan pengamalannya, serta amal kebodohan, maka Alloh tidak butuh pada amalannya meninggalkan makan dan minumnya.” (Rowahu Bukhari).

Dalam hadits yang lain Rasulalloh SAW bersabda: “Banyak orang yang berpuasa, bagiannya dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga.” (Rowahu Ibnu Hibban: 8/257)

Mumpung di bulan suci mari berhenti……!!!

Oleh:Ustadz.Faizunal Abdillah
(http//www.ldii.or.id)