Oleh : K.H. Aceng Karimullah, BE, SE
Kami bisa memaklumi kegundahan hati anda yang merasa khawatir tidak dicintai Alloh lagi karena selama ini merasa hidup tenteram, badan sehat, ekonomi cukup dan tanpa coabaa. Itu karena anda dan banyak orang awam mengira bahwa yang namanya cobaan itu mesti yang “gak enak-gak enak” saja. Coba perhatikan firman Alloh dalam Surat Al-A’rof ayat 168 :Wabalaunaahum bilhasanaati wassayyiaati la’allahum yarji’uun, artinya : “Dan kami coba mereka dengan yang baik-baik (yang enak-enak) dan yang buruk-buruk (yang tidak enak-tidak enak) agar mereka kembali (kepada kebenaran)”

Ayat ini dengan jelas menerangkan bahwa yang namanya cobaan itu bisa saja berupa hal-hal yan menyenangkan seperti kecukupan harta, kesehatan jasmani dan ketenteraman rumah tangga. Jadi ketika anda merasa selama ini punya kehidupan yang aman-aman saja, rumah tangga yang tenteram dan ekonomi yang cukup sebetulnya anda sedang dalam ujian dari Alloh.

Nabi Sulaiman diberi oleh Alloh ilmu yang luas sehingga beliau bisa memiliki harta yang berlimpah, kewibaan yang luar biasa, dan kedudukan yang tinggi (menjadi raja). Apakah ini berarti Nabi Sulaiman tidak pernah diberi cobaan oleh Alloh? Apakah ini berarti Alloh tidak cinta pada Nabi Sulaiman? Justru dalam keadaan “semua keinginannya keturutan” itu Nabi Sulaiman berkata sebagaimana diceritakan dalam Qur’an SUrat An Naml ayat 40 Haadzaa min fadhli robbii liyabluwanii a’asykuru am akfur artinya: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmatNya)”

Jadi pada hakekatnya semua kehidupan kita ini adalah cobaan. Kalaulah kemiskinan adalah cobaan bagi yang miskin, maka sesungguhnya kekayaan pun adalah cobaan bagi yang kaya.

Kalaulah kegagalan adalah cobaan bagi yang sedang tidak berhasil, sesungguhnya kesuksesan juga adalah cobaan bagi orang yang sukses. Kalaulah sakit itu adalah cobaan bagi yang sakit, sesungguhnya sehat pun adalah cobaan bagi yang sehat.

Mungkin anda beertanya : Kalau miskin itu cobaan dan kaya pun cobaan, enak yang dicoba kaya dong? Kalau sakit itu cobaan dan sehat pun cobaan, enak yang dicoba sehat terus dong?
Oh belum tentu bung!
Ingatkah kisah Qorun di jaman Nabi Musa atau Sta’labah di jaman Nabi Muhammad SAW. Mereka jatuh ke lembah kekafiran justru setelah menjadi kaya. Fir’aun itu menjadi sombong dan takabur justeru karena merasa sehat terus tak pernah sakt. Dalam keadaan kaya serba kecukupan, mereka justru lupa bahwa segal nikmat itu semat-mata pemberian Alloh, mereka menjadi sombong dan takabur dengan merasa bahwa itu semua adalah hasil kepintaran mereka sendiri.

Pada kenyataannya memang banyak manusia yang menjadi lalai justru ketika dicoba dengan hal-hal yang enak-enak tadi. Bagaikan seekor monyet yang sedang bertengger di atas sebuah pohon. Ketika bertiup angin kencang, dia kuat-kuat mencengkeram dahan-dahan pohon tadi, dan dia selamat. Justru ketika bertiup angin sepoi-sepoi basah, si monyet terjatuh karena mengantuk terbuai oleh enaknya angin berhembus. Itu cerita tentang monyet. Kita jangan seperti monyet tadi. Ketika belum dapat pekerjaan, ketika hidup masih serba susah, kita kusyu’ berdoa kepada Alloh, ibadahnya giat, mengajinya rajin, amal sholihnya cekatan dan persaudaraan tinggi. Tapi kenapa begitu mendapat jabatan yang mantap, hidup serba kecukupan, bisnis lancar, gaji besar, kok mengajinya menjadi lalai. ibadahnya menjadi tidak tertib, malah timbul sifat kikir dan egois, tidak lagi memikirkan kaum dhu’afa, fakir dan miskin. Na’idzu billah min dzalik, mudah-mudahan Alloh melindungi kita dari sefat-sifat yang demikian.

Maka bila selama ini kehidupan anda terasa aman-aman saja, rumah tangga terasa tenteram, ekonomi terasa cukup, keluarga dalam keadaan sehat wal afiat dan ibadah pun terasa lancar, berarti itu semua adalah tanda kecintaan Alloh kepada anda. Syukurilah itu semua dengan memperbanyak “taqorrub” kepadaNya dengan khusyu’ dan tawadhu’, tetaplah rendah hati dan tingkatkan kepedulian kepada lingkungan terutama kaum papa. Semoga anda dan kita semua mendapatkan husnul-khotimah, aamien.