Tugas pokok manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Alloh. Kewajiban ini harus dilaksanakan sendiri oleh setiap individu, tidak bisa diwakilkan kepada siapapun. Dimana saja berada, kapan saja dan dalam keadaan bagaimana saja tidak ibadah kepada Alloh tidak boleh ditinggalkan dengan alasan apapun, sesuai dengan firman Alloh SWT :

ومن الناس والدواب والأنعام مختلف ألوانه كذلك إنما يخشى الله من عباده العلماء إن الله عزيز غفور

“Sesungguhnya yang takut kepada Alloh dari hamba-hambaNYa hanyalah orang-orang yang berilmu” (Surat Fathir ayat 28)
Setelah Alloh menetapkan kewajiban terhadap jin dan manusia untuk beribadah kepadaNya, Alloh mengutus para Nabi dan Rosul dengan diberi wahyu yang berisikan syariat dan tuntunan ibadah kepada yang harus dikerjakan secara mukhlis, sebgaimana firman Alloh SWT :

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة

“Mereka tidak diperintah kecuali beribadah kepada Alloh dengan memurnikan agama bagiNya” (Surat Al Bayyinah ayat 5).

Dengan demikian manusia di dalam melaksanakan kewajiban beribadah kepada Alloh tidak boleh menurut kehendaknya sendiri, mengira-ngira dengan pikirannya, mencampur ibadah dengan bid’ah, khurofat, syirik maupun takhayul. Harus benar-benar murni sesuai dengan perintah Alloh dan tuntunan Rosululloh. Karena itu Alloh mewajibkan hambanya untuk mencari ilmu sebagai dasar untuk melaksanakan ibadah.

فاعلم أنه لا إله إلا الله


“Ketahuilah (mencari ilmulah) bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Alloh..” (Surat Muhammad ayat 19).


ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسؤولا


“Dan janganlah engkau beramal apa yang tidak engkau ketahui ilmunya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semua itu akan ditanya tentangnya” (Surat Al Isro’ ayat 36)

Kewajiban mencari ilmu merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kewajiban beribadah yang harus dilaksanakan oleh setiap individu muslim tanpa bisa diwakilkan apalagi ditinggalkan. Sabda Rosululloh SAW :

طلب العلم فريضة على كل مسلم


“Mencari ilmu hukumnya wajib bagi setiap orang Islam” (HR Ibnu Majah)

Adapun ilmu yang wajib dicari untuk melaksanakan ibadah kepada Alloh adalah yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadits. Sebagaimana diterangkan dalam hadits :

العلم ثلاثة وما سوى ذلك فهو فضل اية محكمة او سنة قا ئمة او فريضة عادلة


“Ilmu (yang wajib dicari) ada tiga, selainnya adalah kefadholan (tambahan) yaitu : ayat yang dijadikan hukum (Al Qur’an), sunah yang tegak (Al hadits) dan ilmu pembagian waris yang adil” (HR Abu Dawud)

Al Qur’an dan Al Hadits sudah sempurna sebagai pedoman dalam melaksanakn ibadah kepada Alloh dan dijamin pasti benarnya, pasti sahnya, pasti diterimanya dan pasti akan mendapatkan surga Alloh. Coba simak dalil dibawah ini :

وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله ذلكم وصاكم به لعلكم تتقون


“Dan inilah jalanKu yang lurus maka ikutilah dan janganlah engkau mengikuti beberapa jalan, akibatnya jalan-jalan itu akan pecah belah bersama kalian jauh dari jalan Alloh, Demikian wasiat Alloh kepada kalian agar menjadi orang yang bertaqwa” (Surat Al An’am ayat 153)


وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا واتقوا الله إن الله شديد العقاب


“Dan apa-apa yang Rosul berikan pada kalian maka terimalah dan apa-apa yang Rosul larang maka hindarilah dan takutlah kalian pada Alloh, sesungguhnya Alloh itu berat siksanya” (Surat Al Hasyr ayat 7)


الا اني اؤتيت الكتاب ومثله معه


“Ketahuilah aku telah diberi sebuah kitab (Al Qur’an) dan bersamanya sesuatu yang mnyerupainya (Al Hadits)” (HR Abu Dawud)


تركت فيكم امرين لن تضلوا ما تمسكتم بهيما كتاب الله وسنة ن


“Telah aku tinggalkan di kalangan kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh dengan keduanya, yaitu kitab Alloh (Al Qur’an) dan sunnah Nabi (Al Hadits) (HR Malik fii Muwatho’)

Dalam kurun waktu lebih kurang 23 tahun Rosululloh SAW menerima wahyu serta Al Hadits secara bertahap sampai akhirnya sempurna. Selama kenabiannya Rosululloh menjalankan kewajiban berdakwah, menyampaikan risalah dan mengajarkan ilmu yang beliau terima. Para shahabat dengan giat dan semangat berlomba-lomba mencari dan berusaha menguasai ilmu yang diajarkan Rosululloh.
Ketika Rosululloh masih di Makkah sebagian besar kegiatan ibadah umat Islam saat itu masih berupa penyampaian dan penerimaan ilmu terutama yang berkaitan dengan akidah tauhid. Keadaan ini menggambarkan peran pentingnya ilmu di kalangan umat Islam dalam menjalankan ibadahnya.

Perhatian dan kesungguhan para shahabat yang kemudian diikuti tabi’in, tabi’inattabi’in, dan ulama sholihin dalam usaha mencari ilmu, memahami, mengamalkan dan menjagakemurniannya dapat dibuktikan berupa warisan lmu yang mereka tinggalkan
Ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Rosululloh tertanam kuat di hati para shahabat dan menjadi hafalan mereka yang terjaga. Maka tatkala banyak shahabat penghafal Al Qur’an gugur di medan perang diupayakan penghimpunan Al Qur’an pada masa khalifah Abu Bakar dan kemudian dibukukan dalam mushaf pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Penulisan dan pembukuan hadits-hadits Nabi juga dilakukan kemudian, yakni pada masa keamiran Umar bin Abdul Aziz.

Untuk menjaga keontetikan hadits-hadits Nabi, para ulama memelihara sanadnya atau isnadnya, yakni silsilah mata rantai seorang guru dari gurunya sebagai rowi yang meriwayatkan suatu hadits. Dengan meneliti keadaan setiap rowi dalam isnad hadits akan dapat ditentukan mana hadits palsu dan munkar yang tidak boleh diamalkan dan mana hadits-hadits yang dapat diamalkan. Usaha para ulama Islam dalam menjaga keontetikan ilmu seperti ini tidak pernah dilakukan umat sebelumnya dan tidak pernah dilakukan oleh ilmuwan di bidang lain. Inilah hasil karya keilmuan Islam yang tidak tertandingi oleh ilmuwan manapun.
Semua dilakukan semata-mata karena pentingnya ilmu Al Qur’an dan Al Hadits sebagai pedoman ibadah. Dengan ilmu yang disampaikan secara manqul disandarkan pada silsilah guru yang sambung bersambung sampai kepada Rosululloh SAW sebagai penerima wahyu dari Alloh SWT, tidak ada keraguan sedikit pun bagi umat Islam untuk melaksanakn ibadahnya berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadits.

Terutama bagi kita saat ini yang hidup jauh dari masa kehidupan Rosululloh SAW dalam beribadah harus tetap berpegang teguh pada Al Qur’an dan Al Hadits agar tetap selamat dunia dan akhirat. Pesan Rosululloh dalam hadits :

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ بِشْرِ بْنِ مَنْصُورٍ وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ السَّوَّاقُ قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السَّلَمِىِّ أَنَّهُ سَمِعَ الْعِرْبَاضَ بْنَ سَارِيَةَ يَقُولُ وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَوْعِظَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ هَذِهِ لَمَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا قَالَ قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِى إِلاَّ هَالِكٌ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَعَلَيْكُمْ بِالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّمَا الْمُؤْمِنُ كَالْجَمَلِ الأَنِفِ حَيْثُمَا قِيدَ انْقَادَ

“Dari Irbadh bin Sariyah dia berkata: Rosululloh SAW memberi masehat kepada kami yang membuat air mata berlinang dan hati merasa takut, kemudian kami berkata, “Wahai Rosululloh, sesungguhnya ini adalah nasehatnya orang yang berpamitan, maka apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Rosululloh menjawab, “Sungguh aku tinggalkan di kalangan kalian sesuatu yang putih bersih (terang benderang), malamnya bagaikan siangnya, tidak menyimpang darinya setelah (mati)ku kecuali orang yang rusak. Barang siapa dari kalian yang masih hidup (setelah matiku) maka akan melihat banyak perselisihan, tetapilah apa yang kalian tahu sunnahku dan sunnah para khalifah yang benar dan mendapat petunjuk, gigitlah dengan gigi geraham. Dan taatlah walaupun kepada hamba Habsyi. Sesungguhnya (tiada lain) orang iman itu bagaikan unta yang dikeluh, kemanapun dia dituntun maka dia mengikutinya”(HR Ibnu Majah)