Ilmu dan kefahaman agama tidak didapatkan dengan secara ujug-ujug (tiba-tiba) tetapi harus dengan belajar kepada guru yang berkompeten di bidangnya. Para pemuda sebagai generasi penerus perlu bertanya kepada dirinya sendiri, seberapa banyakkah ilmu Al Qur’an dan Al Hadits yang sudah dikaji? Sebagai generasi penerus yang bertanggung jawab tentu akan berupaya bersungguh-sungguh mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. Syukur-syukur bisa mengkhatamkan Al Qur’an mulai dari bacaan, makna, penjelasan dan keterangannya ditambah dengan qirro’ah sab’ahnya serta penguasaan Hadits Kutubusshitahnya. Khatam yang bukan sekedar khatam, namun benar-benar dapat memahami ilmu tersebut secara mendalam dan dapat melaksanakannya di dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga berhasil menjadi orang yang alim dan faqih sebagaimana para pendahulunya dan pada saatnya nanti bisa melanjutkan kelancaran agama Islam yang rohmatan lil alamin.

Kesempatan bagi para pemuda untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya masih sangat luas. Banyak ulama sholihin yang mengajarkan AL Qur’an dan Al Hadits secara manqul, musnad, mutashil masih berada di tengah-tengah kita. Hendaknya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi para pemuda untuk menimba ilmu dari mereka.

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ


“Adakah belum datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk khusyu’ (tunduk) hati mereka mengingat kepada Alloh dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang diberi al kitab sebelumnya (Taurat dan Injil), kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi wangkot (keras). Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang yang fasiq” (Surat Al Hadid ayat 16)

Seorang yang alim dalam Al Qur’an dan Al Hadits memiliki kemampuan :
1. Membaca Al Qur’an dan Al Hadits dengan fasih dan benar
2. Mengerti Al Qur’an dan Al Hadits dengan fasih dan benar
3. Memahami ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadits sehingga dapat mengistinbatkan (mengeluarkan) hukum dan dapat menempatkan pada tempatnya serta memahami pengertian-pengertian lainnnya sesuai dengan sebenarnya
4. Menghayati prisnsip-prinsip kebenaran Al Qur’an dan Al Hadits secra teori dan praktek sehingga bisa mengamalkannya secara benar.

Sedangkan orang yang faqih dalam agama adalah orang alim dan dapat mengamalkan ilmu-ilmunya. Adapun usaha-usaha untuk menjadi orang yang alim dan faqih adalah sebagai berikut:

1. Tertib dan Hobi Mengaji Al Qur’an dan Al Hadits
Seiring dengan perkembangan jaman akhir-akhir ini sering terjadi mengaji AL Qur’an dan Al Hadits hanya sebatas sebagai pengetahuan, kegiatan rutin bukan dijadikan sebagai sarana dan kebutuhan untuk meningkatkan kefahaman agama. Bahkan ada yang hanya sekedar untuk bangga-banggaan tidak untuk diamalkan. Hal ini sangat keliru dan berbahaya dan tidak boleh berlanjut tetapi harus diluruskan agar menjadi benar. Perlu dilakukan usaha dan dinasehatkan bahwa di dalam mangaji harus benar-benar karena Alloh dalam rangka menetapi kewajiban serta mempunyai harapan dapat meningkatkan kefahaman dan keimanan.

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ


“Barang siapa yang Alloh menghendaki baik padanya, maka Alloh akan memahamkannya dalam urusan agama” (HR Bukhori)


يا ايها الناس انما العلم بالتعلم والفقه بالتفقه ومن يردالله به خيرا يفقهه في الدين وانما يخشالله من عباده العلماؤ


“Wahai manusia, sesungguhnya ilmu hanya didapatkan dengan belajar (mengaji) dan faham agama itu hanya diperoleh dengan mencari kefahaman. Dan barang siapa yang Alloh menghendaki baik padanya, maka Alloh akan memberikan kefahaman dalam urusan agama, dan sesungguhnya yang takut kepada Alloh hanya hamba-hamba Alloh yang berilmu” (HR At Tobroni)

Sebagai seorang muslim yang beriman, dalam mengaji Al Qur’an dan Al Hadits harus bisa memahami bahwa yang dikaji adalah firman Alloh (wahyu Alloh) dan sunnah Rosululloh SAW yang merupakan polnya ilmu. Sehingga dalam mengaji harus mencerminkan sikap yu’adzim sya’airulloh (mengagungkan) diantaranya adalah : meletakkan kitab di tempat yang layak, duduk dengan sopan, ta’dzim kepada ustadz, mendengarkan dengan penuh perhatian dan menghayati secara mendalam terhadap ayat-ayat atau hadits yang sedang diterangkan oleh muballegh-muballeghotnya. Apabila belum jelas minta diulangi keterangannya sehingga benar-benar mengerti dan faham terhadap isi dari Al Qur’an dan Al Hadits yang pernah dikajinya. Jangan sampai dalam mengaji mengobrol dengan temannya, sibuk bermain HP, melamun, mengantuk, tidur, saur manuk, menulis/mencoret-coret yang tidak ada hubungannya dengan bahan yang sedang dikaji, meremehkan ustadznya. Hal-hal seperti ini yang menghalangi untuk mendapatkan kefahaman dan tidak akan menambah keimanan.

Mengaji supaya dijadikan hobi bagi satu-satunya muslim yang beriman, karena dengan mengaji akan menambah ilmu, mengetahui yang haq dan yang batal, benar dan salah, halal dan haram sehingga akan menambah kefahaman dan keimanan.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ


“Sesungguhnya yang disebut sebagai orang iman adalah orang-orang yang ketika disebut nama Alloh maka tergetar hatinya dan ketika dibacakan atas mereka ayat-ayat Alloh maka akan tambah keimanannya dan terhadap Tuhannya mereka berserah diri” (Surat Al Anfal ayat 2)

Merupakan suatu Kesalahan jika seseorang merasa sudah faham tanpa menertibkan mengaji. Orang yang kefahaman agamanya kuat maka secara otomatis akan tertib mengajinya, karena kefahaman tidak mungkin didapat tanpa menertibkan mengaji.

2. Memperbanyak Mendengarkan Nasehat Agama dan Juga Mau Memberikan Nasehat

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ


“Dan peringatkanlah Muhammad, maka sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (Ad Dzariyat ayat 55)

Bagi muslim yang beriman, jika menerima nasehat akan bermanfaat dan bertambah kefahamannya, sebaliknya apabila tidak mau menerima nasehat (berpaling) berarti orang-orang yang sombong dan diancam masuk ke dalam neraka. Rosululloh menerangkan :

لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر


“Tidak akan masuk surga seseorang yang ada dalam hatinya seberat semut dari kesombongan” (HR Muslim)


وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى


“Barang siapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya bagi dia kehidupan yang sempit (di dunianya) dan akan Kami kumpulkan dia di hari kiamat dalam keadaan buta” (Surat Taha ayat 124)

Dengan sering dan hobi mendengarkan nasehat akan selalu mendapatkan penerangan dan peringatan ke jalan yang benar. Apabila langkah sudah benar maka dengan nasehat itu bisa tambah yakin dan bisa bersyukur, karena kita sudah di dalam kebenaran. Jika langkah yang diambil salah maka dengan nasehat itu kita jadi ingat dan bisa memperbaiki setiap kesalahan serta bersyukur bahwa kita selalu mendapatkan pencerahan untuk menuju pada kebenaran.

3. Banyak Bergaul dengan Orang yang Sholeh
Bergaul dengan orang yang sholeh akan mamberikan motivasi untuk meniru kesholehannya. Seandainya melakukan kesalahan akan diingatkan atau paling tidak akan merasa malu utuk berbuat kejelekan karena berada di lingkungan orang yang sholeh. Akan tetapi apabila bergaul dengan orang yang tidak sholeh, jangankan dinasehati jika salah, bahkan kita akan diajak untuk mengerjakan pada kemaksiatan. Sabda Rosululloh SAW :

مثل الجليس الصالح والجليس السوء كمثل صاحب المسك وكير الحداد لا يعدمك من صاحب المسك اما تشتريه او تجد ريحه وكير الحداد يحرق بدنك او ثوبك او تجد منه ويحا خبيثة


“Perumpamaan teman bergaul yang sholeh dan teman bergaul yang jelek adalah sebagaimana penjual minyak wangi dan ububan (perapian) pandai besi. Penjual minyak wangi tidak akan melewati padamu, adakalanya kamu akan membeli minyak wangi itu darinya, atau paling tidak kamu akan mendapatkan bau wanginya. Dan sedangkan pandai besi akan membakar badanmu atau pakainmu atau paling tidak akan kamu dapatkan bau sangitnya” (HR Bukhori)


الرجل على دين خليله فلينظر احدكم من يخالل


“Seorang laki-laki itu menetapi kebiasaan teman dekatnya, maka hendaklah dia melihat siapa yang menjadi teman dekatnya” (HR Abu Dawud)

Oleh karena itu menentukan teman bergaul sangat penting, karena sebagian waktu kita berada di sisi teman pergaulan. Sedangkan manusia ada kelemahan untuk mudah mengikuti sesuatu yang cenderung melanggar daripada mengikuti hal-hal yang baik. Dengan banyak bergaul dengan teman yang faham dan sholeh, maka walaupun kita tidak bisa mendapatkan kesempatan belajar ilmu darinya paling tidak sebagian waktu kita akan disibukkan dengan hal-hal yang baik dan mengurangi waktu-waktu untuk lahan dan melanggar sehingga akan menambah mantapnya keimanan dan kefahaman agama.