Pada dasarnya manusia diciptakan disamping dalam keadaan makhluk individu juga sebagai makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendirian tanpa adanya bantuan dari sesamanya, sehingga perlu adanya interaksi yang positif dalam kehidupan. Antara sesama manusia mempunyai sifat saling membutuhkan. Sebagai muslim yang beriman dan hidup di lingkungan masyarakat majemuk harus dapat membawa diri dan bisa meningkatkan kepedulian sosial. Hal ini sangat penting disamping menetapi kewajiban yang telah dituntukan agama juga untuk mendapatkan simpati positif di masyarakat. Citra Islam yang rahmatan lil alamin dapat bisa terwujud. Kegiatan yang berhubungan syi’ar ibadah dan amar makruf nahi munkar dapat berjalan dengan aman dan lancar. Dengan demikian agama Islam yang berpedoman kepada Al Qur’an dan Al Hadits dapat berkembang dan diterima di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai tingkat, macam sosial ekonominya.

Harus dipahami bahwa budi luhur adalah perintah agama. Sedangkan pengertian budi luhur disini adalah segala perilaku/perbuatan yang sesuai dengan peraturan agama dan menetapi peraturan pemerintah yang sah, mulai dari pemerintah tingkat pusat hingga tingkat RT serta norma-norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat setempat.

Untuk mewujudkan hal tersebut seorang mukmin dituntut untuk proaktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan di masyarakat baik dalam bentuk materi, tenaga maupun pikiran berupa ide-ide yang positif. Sikap yang acuh tak acuh terhadap kegiatan yang ada di lingkungan sekitar justru tidak dibenarkan dalam agama, malah akan menimbulkan penilaian dan pandangan yang negatif yang pada akhirnya akan menimbulkan antipati masyarakat. Dalam penerapan budi luhur bermasyarakat tentunya harus menghindari kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan syari’at Islam. Rosululloh SAW telah memerintahkan kepada umatnya untuk memuliakan tetangga dan tidak menyakiti hatinya sebagaimana telah diterangkan dalam sabdanya :

من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فلا يؤذ جاره


“Barang siapa yang beriman terhadap Alloh dan hari akhir maka jangnlah menyakiti tetangganya” (HR Bukhori)


واحسن جوار من جاورك تكن مسلما

“Dan berbuat baiklah pada orang yang menjadi tetanggamu maka menjadi orang Islam yang sempurna” (HR Ibnu Majah)

Berikut ini beberapa contoh penerapan sikap budi luhur dalam bermasyarakat yang tidak bertentangn dengan agama :
1. Apabila bertemu dengan tetangga menyapanya
2. Apabila bertemu dengan sekelompok masyarakat menyapa dengan sopan dan permisi
3. Apabila naik kendaraan di dalam kampung dengan kecepatan rendah dan tidak menggeber-nggeberkan gasnya
4. Melayat warga yang meniggal dunia dan memberikan sumbangan sepantasnya
5. Menjenguk dan membantu warga yang sakit
6. Memberikan sumbangan untuk pembangunan/perbaikan rumah ibadah, jalan, pos kamling, jembatan dan lain-lain
7. Ikut berperan serta dalam gotong royong dan kerja bakti
8. Membantu warga yang terkena bencana alam
9. Mengikuti pertemuan warga dan aktif memberikan ide-ide yang baik
10. Menjaga keamanan lingkungan misalnya ronda
11. Meminta ijin apabila tidak bisa mendatangi undangan acara yang sudah rutin
12. Apabila ada undangan suatu acara yang bertentangan dengan syari’at Islam, hendaknya minta ijin dengan alasan yang dapat diterima dan tidak menyakitkan hati
13. Berusaha menjadi penengah dalam kehidupan bermasyarakat, tidak memihak/ngeblok salah satu golongan
14. Apabila mempunyai rejeki yang lebih memberi santunan kepada tetangga dan yang kurang mampu
15. Menyadari kekurangan diri sendiri dan mudah memaafkan orang lain
Dan masih banyak contoh lagi penerapan budi luhur di masyarakat yang diajarkan oleh agama.

Dalam Al Qur’an diterangkan sebagai berikut:

الذين ينفقون في السراء والضراء والكاظمين والغيظ والعافين عن الناس الله يحب المحسني
ن
“Orang-orang yang menginfaqkan dengan samar ataupun terang-terangan dan orang yang bisa menahan marah dan memaafkan dari kesalahan manusia, Alloh senang terhadap orang yang berbuat baik” (Surat Ali Imron ayat 134)