Anda mungkin kagum mendengar nama Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Keuangan yang sekarang bekerja di Bank Dunia sebagai direktur pelaksana dan berkantor di Amerika Serikat. Lebih takjub lagi apabila melihat deretan profil wanita yang sukses memegang jabatan penting seperti Indira Gandhi, Golda Meir, Margareth Thatcher, Angela Markel, atau Ellen Johnson. Namun yang acap terlupakan, siapa yang mampu menjadikan mereka sukses? Keberhasilan tidak datang sendiri. Perlu bimbingan. Siapa yang berperan di balik kesuksesan mereka? Tak lain dan tak bukan adalah sosok Ibu Rumah Tangga. Begitu besarnya peranan seorang ibu rumah tangga.

Ketika tabungan anak anda yang baru berusia lima tahun mulai penuh, dan saat Anda bertanya, “Mau untuk apa Nak, uang tabungannya?” Hati terasa terharu ketika anak Anda menjawab, “Mau beli CD Murottal, Ma!” Padahal anak-anak lain seusianya kebanyakan menjawab, “Mau beli PS!”. Atau ketika ditanya tentang cita-citanya, “Adek pengin jadi muballegh yang paham!” Haru… mendengar jawaban seperti ini dari seorang anak tatkala anak-anak seusianya bermimpi, “Pengin jadi superman!”

Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten, bersungguh-sungguh dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakkal kepada Alloh. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja? Kita sama-sama tahu bahwa kondisi sekarang ini di sekitar bagaimana acara TV yang lebih banyak mudhorot daripada manfaatnya, maraknya game online dan internet di mana-mana, HP, lingkungan yang amburadul dan lain-lain. Siapa lagi kalau bukan kita wahai para ibu yang harus mendidik anak kita sendiri?

Memang terkdang kita merasa kagum ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji puluhan juta rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan tersebut menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negeri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah diraih. Benarkah seperti itu? Nanti dulu!

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak wanita muslimah bergeser dari fitrahnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang wanita “menunjukkan eksistensi diri” di luar. Menggambarkan dan menganggap seolah-olah menjadi seorang ibu yang tinggal di rumah adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama, “Sekarang kerja di man?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk, “Saya ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu “sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar.

Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya, dia harus berhadapan dengan “nasehat” dari bapak tercintanya, “Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau di rumah saja mengurus suami dan anak-anak.” Padahal putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya, mengurus rumah tangga.

Pertumbuhan suatu bangsa pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan kepribadian sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illalloh, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Qur’an dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka cara beribadah kepada Alloh yang telah menciptakan mereka, mengajari akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Seorang ulama pernah memberikan tausiahnya, bahwa seorang ibu adalah ratu di dalam rumah tangga. Ini benar adanya.

Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan sekedar supaya anak tahu bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran yang luar biasa untuk membiasakannya.
Alloh telah berfirman dalam Al Qur’an :

“Hai orang –orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At Tahrim ayat 6). Firman Alloh, “Peliharalah dirimu dan keluargamu!” menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.

Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling kerjasama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawabannya.

Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang ini sepertinya keadaannya sangat menyedihkan!Tidak semua memang tetapi banyak dari para ibu yang sibuk bekerja dan memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar apa tidak, atau bahkan tidak mengerjakannya.. Bagaiman mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji puluhan juta rupiah? Sungguh sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaiman kepribadian anak dibentuk. Sedih! Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akherat. Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dangan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Alloh.
Atau memang yang kit inginkan adalah kesuksesan karir anak kita yaitu meraih hidup yang “berkecukupan”? Cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar gaji 10 pembantu, mempunyai keluarga bahagai yang berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah disebutlah itu dengan bahagia?

Ingatlah ketika usia mulai senja, mata mulai rabun, pendengaran mulai kabur, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tidak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan, siapa yang mau mengurus kita kalau tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asyik dengan istri dan anak-anak mereka?
Ketika malaikat maut datang menjemput, ketika jasad telah dimasukkan ke dalam liang lahat, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri sudah tidak mampu berbuat apa-apa karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?
Lalu…Masihkan kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata “Cuma”? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu? Ingatlah ibu adalah ratu dalam rumah tangga!.