Perang dahsyat yang kini mereka kobarkan bukan dalam bentuk perang senjata belaka. Yang lebih berbahaya lagi adalah mereka melakukan penyerbuan secara intens ke alam pikiran anak-anak. Tujuan komplotan perusak bumi itu adalah menghancurkan aqidah, pemikiran dan cita-cita luhur anak-anak kita yang merupakan calon generasi masa depan.

Komplotan itu telah menyebarkan narkoba secara massive, menjual syair lagu-lagu yang melecehkan eksistensi Tuhan, memproduksi film-film yang mengeksploitasi praktek percabulan, kekerasan, maupun mistik hingga menumbuh-suburkan game-game simulasi (game virtual) yang mampu membuai alam pikiran anak-anak ke dunia awang-awang. Masuknya aspek digital dalam tiap sendi kehidupan manusia sendiri, harus juga dicermati yaitu bagaimana mengantisipasi nilai-nilai laten.

Tentang nilai laten tersebut, bahwa seiring dengan booming internet, peradaban dan kehidupan manusia menjadi makin digital dan semakin mengikuti perkembangan zaman. Ini berarti pengetahuan manunsia selalu up to date dan memiliki keunggulan kompetitif. Hanya dengan sekali klik semua layanan yang kita butuhkan tersedia. Mulai dari kesehatan, keuangan dan perbankan, sampai kencan pun bisa diatur lewat internet.

Tetapi bagaimana denga dampak cultural shock yang justru tidak disadari kehadirannya? Sebagaian besar orang justru kurang peduli dengan efek samping perkembangan Iptek. Digitalisasi akan selalu diikuti dengan virtualisasi. Artinya keberadaan realitas nyata akan tergantikan oleh realitas virtual. Sangat menyedihkan!

Hal itu pula yang terjadi pada game virtual. Permainan modern yang banyak dimainkan anak-anak itu telah menggeser keberadaan permainan tradisional. Sudah sulit sekali kita menjumpai anak-anak bermain petak umpet atau kucing-kucingan. Mereka lebih suka menghabiskan waktu berjam-jam bermain game, meski harus pergi ke rental dan bayar, atau menonton televisi. Bahkan masih dalam berpakaian sekolah anak-anak ini sudah nongkrong di tempat tersebut.

Padahal itu semua justru tidak mendidik sama sekali. Banyak mudhorot yang ditimbulkannya. Sejauh ini game yang tumbuh menjamur di berbagai tempat bahkan sampai ke pedesaan hanya melulu menyajikan aspek kekerasan dan erotisme (sensualitas). Kalau tidak hati-hati seksplorasi imajinasi lewat realitas virtual tersebut, dalam kurun waktu tertentu dapat memunculkan problem baru di kalangan generasi muda yaitu munculnya generasi muda baru yang hedonis, pemuja kenikmatan dan kemudahan. Sangat tidak pantas apabila orang tua beralasan, “Ah biar tidak keluyuran lebih baik main game atau nonton televisi di rumah”.

Film keras, berdarah-darah dan seks, game virtual yang kian mem-booming di pasaran,norma-norma yang memisahkan status dewasa dan anak-anak kian tipis dan akhirnya lenyap. Adegan-adegan privasi dan kekeranan yang hanya “layak” ditonton orang dewasa pun kini telah telah dikonsumsi anak-anak. Nilai dan norma dalam abad modern ini telah tergerus oleh bacaan, film, tontonan dan juga game-game itu.

Bayangkan saja, anak-anak bisa merasakan kepuasan membunuh musuh dengan senjata tajam atau bahkan berkencan denga bintang film seksi terkenal sekalipun. Siapapun yang diinginkannya tinggal disetting, semua beres dalam sekejap. Akibatnya saat ini kalangan anak-anak maupun generasi ABG makin melecehkan norma-norma, sejalan maraknya era teknologi digital. Baik norma sosial, apalagi norma-norma ketuhanan.

Akhirnya tulisan ini ingin mengingatkan kita semua untuk berhati-hati menjaga anak-anak dari pengaruh budaya hedonisme yang kian marak tumbuh dalam masyarakat kita. Karena anak-anak kita adalah titipan Alloh yang harus kita jaga dengan serius. Sebagaimana telah ditandaskan Alloh dalam surat An Nisa ayat 9 “Dan hendaklah takut orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap anak-anak mereka. Oleh karena itu hendaklah mereka bertakwa kepada Alloh dan hendaklan mereka mengucapkan perkataan yang benar”.