Bersuku-suku, beratus-ratus bahasa, namun dihuni 80 persen umat Islam menjadikan Indonesia negara demokrasi berpenduduk muslim terbesar di dunia. Meski begitu, Indonesia terkadang masih mengalami kekerasan antara umat beragama. Itulah yang mendorong DPP LDII mengembangkan konsep green dakwah.

“Maksudnya adalah, bagaimana dakwah dapat menyejukkan jauh dari kebencian dan mewujudkan akhlaqul karimah atau berbudi pekerti yang luhur dalam kehidupan sehari-hari,” kata Prof Dr KH Abdullah Syam, Ketua Umum DPP LDII, saat pidato pembukaan Munas LDII VII di Hotel Shangri-La, pada 8 Maret lalu.

Pemaksaan kehendak ataupun menyatakan diri paling benar, dalam konsep green dakwah alias dakwah yang ramah terhadap lingkungan ini, adalah kegiatan yang paling dihindari. Lantaran dapat memicu kekerasan antar umat beragama.

Sejalan dengan pemikiran itu, Prof Dr KH Umar Shihab, Ketua MUI Pusat Bidak Ukhuwah, mengatakan green dakwah adalah perwujudan LDII menyucikan diri. Mengubah metode dakwah untuk menciptakan kerukunan antar umat beragama, “Setiap muslim meski berbeda adalah satu tubuh, bersaudara,” kata Umar Shihab. Menurutnya umat Islam harus mengubur masa lalu, untuk menciptkan Islam yang memiliki umat yang beradab, memiliki kesejahteraan yang tinggi, dan tidak terbelakang. Semua rukun dan menyatu, untuk tujuan kemaslahatan umat.

Tak ada kebencian adalah jalan terbaik, untuk menghindari kekerasan karena perbedaan pandangan, “Perbedaan itu tak ada yang salah dan benar, semuanya benar karena melihatnya dari sudut yang lain. Jadi semua harus saling menghargai. Kecuali perbedaan itu soal aqidah, seperti pengakuan ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW, “Itu salah, maka kami menganjurkan Ahmadiyah dibubarkan, namun jangan sampai terjadi kekerasan, kita umat Islam wajib meluruskan pemahaman yang keliru,” ujar Umar Shihab.(munas.ldii.or.id)