Kisah


Setelah Allah s.w.t.menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya,laut-lautannya dan tumbuh-tumbuhannya,menciptakan langit dengan mataharinya,bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yangdiciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi memeliharanya menikmati tumbuh-tumbuhannya, mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.

Kekhawatiran Para Malaikat.
Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu,mereka khuatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu,disebabkan kecuaian atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari.Berkata mereka kepada Allah s.w.t.:”Wahai Tuhan kami!Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal kami selalu bertasbih,bertahmid,melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya,sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu,nescaya akan bertengkar satu dengan lain,akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya,sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu.”

Allah berfirman,menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu:

“Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku.Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya,bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah,karena Allah s.w.t melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya.”

Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.tt.dari segumpal tanah liat,kering dan lumpur hitam yang berbentuk.Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna

Iblis Membangkang.
Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang lain,yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya. Iblis merasa dirinya lebih mulia,lebih utama dan lebih agung dari Adam,karena ia diciptakan dari unsur api,sedang Adam dari tanah dan lumpur.Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain,walaupun diperintah oleh Allah.

Tuhan bertanya kepada Iblis:”Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?”

Iblis menjawab:”Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia.Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur.”

Karena kesombongan,kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan,maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pd.dirinya hingga hari kiamat.Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.

Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat.Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan,tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu,bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam,sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat,dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat,mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang,menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.

Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:

“Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka.Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah.”

Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda.
Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi,maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta,kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para malaikat seraya:

“Cobalah sebutkan bagi-Ku nama benda-benda itu,jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam.”

Para malaikat tidak berdaya memenuhi tentangan Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka.Mereka mengakui ketidak-sanggupan mereka dengan berkata:”Maha Agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali apa yang Tuhan ajakan kepada kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.”

Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama itu kepada para malaikat dan setelah diberitahukan oleh Adam,berfirmanlah Allah kepada mereka:”Bukankah Aku telah katakan padamu bahawa Aku mengetahui rahsia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”

Adam Menghuni Syurga.
Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya,menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunan. Menurut cerita para ulamat Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang disebelah kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga,ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya.ia ditanya oleh malaikat:”Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?”

Berkatalah Adam:”Seorang perempuan.”Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya.”Siapa namanya?”tanya malaikat lagi.”Hawa”,jawab Adam.”Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?”,tanya malaikat lagi.

Adam menjawab:”Untuk mendampingiku,memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah.”

Allah berpesan kepada Adam:”Tinggallah engkau bersama isterimu di syurga,rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya,rasailah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu.Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim.Ketahuilah bahawa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini.”
[http://manshurin.com]

Iklan

KESOMBONGAN QORUN

Negeri Mesir yang terkenal subur dan makmur dengan tingkat peradaban yang tinggi itu ternyata telah dikotori oleh perilaku dan keyakinan penduduknya yang menyimpang dari ajaran tauhid. Tuhan yang semestinya mereka sembah adalah Alloh SWT, tetapi ternyata mereka telah menjadikan Fir’aun sang raja Mesir sebagai sesembahan mereka.
Alloh telah mengutus nabi Musa a.s. untuk memerangi dan memberantas kemusyrikan di muka bumi. Perjuangan nabi Musa menegakkan panji-panji tauhid di tengah-tengah masyarakat Bani Israil yang terkenal “rewel” dan suka mencari alasan memang cukup berat. Namun nabi Musa tidak putus asa. Satu demi satu pengikut nabi Musa bertambah, sampai suatu ketika seorang kaya raya yang terpandang di kalangan Bani Israil juga menjadi pengikut nabi Musa. Dia adalah Qorun anak paman nab i Musa. Dengan insafnya Qorun diharapkan dapat memperkuat dan mendukung perjuangan nabi Musa bersama pengikutnya. Namun yang diharapkan hanyalah impian belaka. Kekayaan Qorun luar biasa, hingga kunci-kunci gedung tempat menyimpan kekayaannya tidak dapat dipikul oleh 12 laki-laki yang kuat sekalipun. Ironisnya kekayaan tersebut telah membuat Qorun bersikap angkuh dan sombong sehingga sulit baginya untuk menerima nasehat. Dalam dirinya terjadi perubahan ke arah penurunan keimanan, hilang sifat-sifat orang iman dalam dirinya, hilang kekhusyu’an hatinya. Ia mulai malas beribadah, sehari-hari yang dipikirkan hanyalah menumpuk-numpuk harta dunia.
Apabila Qorun keluar selalu dihiasi dengan pesona dunia yang gemerlapan. Dengan menunggang seekor kuda yang pelananya terbuat dari kulit bertahtakan emas dan perak. Baju yang ia kenakan emas berlian, sungguh ia sangat gagah dan mewah. Pemandangan seperti itu sangat memukau bagi orang-orang yang mencintai dunia, tetapi bagi orang-orang yang lebih mencintai akherat akan memandang bahwa kekayaan Qorun tidak berarti sedikitpun di sisi Alloh.
Hingga pada suatu ketika, Alloh menurunkan ayat tentang zakat kepada nabi Musa. Saat itu Qorun berniat menemui nabi Musa untuk meminta penjelasan tentang ayat tersebut. Akhirnya nabi Musa menjelaskan perincian-perincian zakat di hadapan Qorun. “Setiap 1.000 dinar zakatnya 1 dinar, setiap 1.000 dirham zakatnya 1 dirham, setiap 1.000 ekor kambing zakatnya 1 ekor kambing, beginilah seharusnya terhadap harta yang engkau miliki”
“Baiklah Musa, sekarang aku sudah mengerti tentang zakat, tapi aku akan mencoba menghitung dulu hartaku, terima kasih aku pamit dulu”
Qorun mulai menghitung hartanya. Setelah dihitung ternyata jumlah zakat yang harus dikeluarkan banyak sekali sehingga Qorun merasa berat untuk menyerahkan zakatnya kepada nabi Musa.
“Wah ternyata aku harus mengeluarkan ribuan dinar dan dirham, kalau begini caranya aku bisa bangkrut! Musa harus memberi penjelasan, ini tidak bisa diteruskan”
Qorun berpikir keras untuk dapat menjatuhkan wibawa nabi Musa di depan pengikutnya. Secara diam-diam Qorun mengundang pembesar-pembesar Bani Israil ke rumahnya. Mereka dihasut untuk dapat menjatuhkan nabi Musa.
“Wahai orang Bani Israil sesungguhnya Musa telah memerintahkan pada kalian berbagai peraturan agama diantaranya ialah kalian diperintahkan untuk membayar zakat padanya. Tahukah kalian bahwa ini taktik Musa untuk merampas harta kalian semua. Kemudian harta zakat itu akan dipergunakan untuk kebutuhan sehari-harinya, berfoya-foya, hiburan dan lain-lain, ini adalah pemerasan secara halus dan terang-terangan, apakah kalian tidak sadar jadi sapi perahan Musa? Bagaimana menurut kalian?”
“Hai Qorun, engkau adalah pembesar kami, rasanya benar omonganmu itu, sekarang perintahkan sesuatu kepada kami, kami pasti akan melakasanakannya”
“Kalau begitu carilah pelacur, nanti kita beri upah asalkan dia mau mengaku di depan umum bahwa dia telah berzina dengan Musa”
Maka berangkatlah utusan Qorun untuk mencari wanita pelacur dan dibawa kehadapan Qorun. “Hai wanita pelacur, maukah kau kuberi uang 1.000 dinar dan 1.000 dirham? Kemudian aku akan memberimu kedudukan dan aku kumpulkan kau dengan istri-istriku?”
Dengan senang hati pelacur menjawab, “Tentu, aku sangat senang menerimanya”.
“Tetapi tidak begitu saja kau mendapatkannya. Ada syarat yang harus kau lakukan. Besok kau harus mengaku di depan umum bahwa kau telah berbuat zina dengan nabi Musa, sanggup?’.
“Pasti sanggup, kenapa tidak?”.
Keesokan harinya Qorun mengumpulkan orang-orang Bani Israil di lapangan yang luas, kemudian Qorun datang pada nabi Musa dan berkata “Wahai nabi Musa, saat ini orang-orang Bani Israil sedang menunggumu untuk menerima nasehat dan pengarahan tentang peraturan Alloh”.
Nabi Musa pun bergegas menuju lapangan dan berseru, “Wahai Bani Israil, Barang siapa yang mencuri maka ia akan dipotong tangannya, barang siapa yang menuduh berzina tanpa mendatangkan saksi maka hukumannya dicambuk 80 kali, bila ada bujangan atau gadis berzina masing-masing dicambuk 100 kali, bagi yang pernah menikah dirajam dengan batu sampai mati bila berbuat zina”.
“Hai Musa, bagaimana bila yang berbuat zina engkau sendiri? Apakah dirajam juga?” tanya Qorun.
“Walaupun aku sendiri yang berbuat zina tetap harus dirajam”.
“Hai Musa, ketahuilah! Orang-orang Bani Israil telah mengetahui perbuatanmu, ternyata engkau telah berbuat zina dengan seorang pelacur”.
“Jangan menuduhku sembarangan! Panggil perempuan itu kemari”.
Qorun memanggil perempuan itu, “Hai kau majulah ke depan”. Perempuan itu maju ke depan. “Musa , ini dia orangnya”.
Musa menatap perempuan itu dengan tajam, “Hai perempuan, demi Dzat yang telah menurunkan Taurot, aku bertanya kepadamu dan kamu harus menjawab dengan jujur, apakah engkau telah berbuat zina denganku?”
Hati wanita pelacur itu bergetar mendengar perkataan nabi Musa. Ia tak kuasa berbohong. Alloh telah membuka hatinya sehingga ia kembali dapat berfikir dengan akal sehatnya, dalam hati ia berkata, “ Aku telah mempunyai niat buruk terhadap seorang utusan Alloh demi mendapatkan kesenangan dunia. Jika aku menyesali perbuatanku ini dan aku bertaubat kepada Alloh, aku yakin Alloh pasti akan mengampuniku”.
“Demi Alloh, aku tidak berbuat zina dengan nabi Musa! Tetapi Qorunlah yang telah membayarku untuk berbuat seperti ini”. Sontak Qorun dan pengikutnya terkejut.
Demi mendengar penuturan di pelacur nabi Musa bersujud dan menangis kepada Alloh. Nabi Musa terharu dengan upadayanya Alloh terhadap orang-orang yang berniat menjatuhkannya. “Ya Alloh, kalau memang aku benar-benar utusanMu maka murkalah Engkau. Karena diriku telah dipermalukan oleh Qorun. Qorun yang selama ini kusaksikan baik ternyata telah mengkhianatiku”.
Kemudian Alloh menurunkan wahyu kepada nabi Musa yaitu Alloh memerintahkan bumi supaya taat dengan perintah nabi Musa. Nabi Musa berkata, “Wahai orang-orang Bani Israil! Sesungguhnya Alloh mengutusku terhadap Qorun seperti Alloh mengutusku terhadap Fir’aun. Maka barang siapa yang ingin bersama Qorun tetaplah bersamanya, dan barang siapa yang ingin tetap bersamaku jauhilah dia!”.
Akhirnya semua orang menjauhi Qorun kecuali dua orang. Saat itulah nabi Musa membuktikan bahwa bumi memang diperintahkan oleh Alloh untuk taat pada perintahnya. “Wahai bumi! Telanlah Qorun bersama pengikutnya!”.
Bumipun langsung menelan mereka hingga sebatas kaki, Qorun berusaha lari namun bumi telah mencengkeram kakinya. Ia pun berteriak, “Hai Musa maafkan aku! Selamatkan aku!”.
Dengan tidak menghiraukan Qorun, nabi Musa kembali memerintahkan bumi untuk menelan Qorun. Lalu bumi menelan mereka sebatas pusar. Begitu seterusnya sampai sebatas leher. Sambil merintih, Qorun terus memohon ampun diiringi sumpah agar nabi Musa mau mamaafkannya. Namun nabi Musa tidak menoleh sedikitpun kepada Qorun. Akhirnya bumi menelan sedikit demi sedikit hingga seluruh tubuh mereka.
Setelah kejadian itu orang-orang Bani Israil ribut membicarakan harta kekayaan Qorun yang ditinggalkannya. “Aah, ini semua kan kesengajaan nabi Musa mendoakan Qorun agar disiksa oleh Alloh, karena nabi Musa ingin mewarisi dan menguasai istana-istana dan harta kekayaan Qorun”.
Nabi Musa sangat marah mendengar perkataan mereka, lalu ia berdoa kepada Alloh, “Ya Alloh, benamkanlah semua harta kekayaan Qorun ke dalam perut bumi agar tidak menjadi fitnah kepadaku dan kepada orang-orang Bani Israil”.
Sesaat kemudian terdengar suara keras bersamaan dengan amblasnya seluruh gedung Qorun , harta bendanya dan kekayaannya tanpa tersisa sedikitpun.
Ternyata sehebat apapun kelebihan yang dimiliki manusia, bila ia kufur kepada Alloh, tidak melaksanakn perintahnya dalam waktu singkat Alloh bisa membinasakan seluruh jiwa dan harta manusia, tanpa ada seorangpun yang bisa mencegahnya.

Kisah Penghuni Surga Terakhir

Bahwa Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat? Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama?

Para sahabat menjawab: Tidak, wahai Rasulullah.

Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup awan?

Mereka menjawab: Tidak, wahai Rasulullah.

Rasulullah saw. bersabda: Seperti itulah kalian akan melihat Allah. Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka ia mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala.

Tinggallah umat ini, termasuk di antaranya yang munafik. Kemudian Allah datang kepada mereka dalam bentuk selain bentuk-Nya yang mereka kenal, seraya berfirman: Akulah Tuhan kalian.

Mereka (umat ini) berkata: Kami berlindung kepada Allah darimu. Ini adalah tempat kami, sampai Tuhan kami datang kepada kami. Apabila Tuhan datang, kami tentu mengenal-Nya.

Lalu Allah Taala datang kepada mereka dalam bentuk-Nya yang telah mereka kenal. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian.

Mereka pun berkata: Engkau Tuhan kami.

Mereka mengikuti-Nya. Dan Allah membentangkan jembatan di atas neraka Jahanam.

Aku (Rasulullah saw.) dan umatkulah yang pertama kali melintas. Pada saat itu, yang berbicara hanyalah para rasul. Doa para rasul saat itu adalah: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.

Di dalam neraka Jahanam terdapat besi berkait seperti duri Sakdan (nama tumbuhan yang berduri besar di setiap sisinya).

Pernahkah kalian melihat Sakdan? Para sahabat menjawab: Ya, wahai Rasulullah.

Rasulullah saw. melanjutkan: Besi berkait itu seperti duri Sakdan, tetapi hanya Allah yang tahu seberapa besarnya. Besi berkait itu merenggut manusia dengan amal-amal mereka. Di antara mereka ada orang yang beriman, maka tetaplah amalnya. Dan di antara mereka ada yang dapat melintas, hingga selamat.

Setelah Allah selesai memberikan keputusan untuk para hamba dan dengan rahmat-Nya Dia ingin mengeluarkan orang-orang di antara ahli neraka yang Dia kehendaki, maka Dia memerintah para malaikat untuk mengeluarkan orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah. Itulah orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan rahmat-Nya, yang mengucap: “Laa ilaaha illallah”.

Para malaikat mengenali mereka di neraka dengan adanya bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak keturunan Adam, kecuali bekas sujud. Allah melarang neraka memakan bekas sujud. Mereka dikeluarkan dari neraka, dalam keadaan hangus. Lalu mereka disiram dengan air kehidupan, sehingga mereka menjadi tumbuh seperti biji-bijian tumbuh dalam kandungan banjir (lumpur).

Kemudian selesailah Allah Taala memberi keputusan di antara para hamba. Tinggal seorang lelaki yang menghadapkan wajahnya ke neraka. Dia adalah ahli surga yang terakhir masuk. Dia berkata: Ya Tuhanku, palingkanlah wajahku dari neraka, anginnya benar-benar menamparku dan nyala apinya membakarku. Dia terus memohon apa yang dibolehkan kepada Allah.

Kemudian Allah Taala berfirman: Mungkin, jika Aku mengabulkan permintaanmu, engkau akan meminta yang lain.

Orang itu menjawab: Aku tidak akan minta yang lain kepada-Mu.

Maka ia pun berjanji kepada Allah. Lalu Allah memalingkan wajahnya dari neraka. Ketika ia telah menghadap dan melihat surga, ia pun diam tertegun, kemudian berkata: Ya Tuhanku, majukanlah aku ke pintu surga.

Allah berkata: Bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta kepada-Ku selain apa yang sudah Kuberikan, celaka engkau, hai anak-cucu Adam, ternyata engkau tidak menepati janji.

Orang itu berkata: Ya Tuhanku! Dia memohon terus kepada Allah, hingga Allah berfirman kepadanya: Mungkin jika Aku memberimu apa yang engkau pinta, engkau akan meminta yang lain lagi.

Orang itu berkata: Tidak, demi Keagungan-Mu. Dan ia berjanji lagi kepada Tuhannya. Lalu Allah mendekatkannya ke pintu surga. Setelah ia berdiri di ambang pintu surga, ternyata pintu surga terbuka lebar baginya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas keindahan dan kesenangan yang ada di dalamnya.

Dia pun diam tertegun. Kemudian berkata: Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga.

Allah Taala berfirman kepadanya: Bukankah engkau telah berjanji tidak akan meminta selain apa yang telah Aku berikan? Celaka engkau, hai anak cucu Adam, betapa engkau tidak dapat menepati janji!

Orang itu berkata: Ya Tuhanku, aku tidak ingin menjadi makhluk-Mu yang paling malang. Dia terus memohon kepada Allah, sehingga membuat Allah Taala tertawa (ridha).

Ketika Allah Taala tertawa Dia berfirman: Masuklah engkau ke surga. Setelah orang itu masuk surga, Allah berfirman kepadanya: Inginkanlah sesuatu! Orang itu meminta kepada Tuhannya, sampai Allah mengingatkannya tentang ini dan itu. Ketika telah habis keinginan-keinginannya, Allah Taala berfirman: Itu semua untukmu, begitu pula yang semisalnya

(HR Muslim no 267)

Gempa 7,6 SR telah meluluhlantakkan bumi Minang pada Rabu 30/09. Gedung2 pemerinytah, swasta, sekolah, pasar beserta ribuan rumah hancur lebur. Ratusan korban jiwa melayang hanya dalam tempo kurang dari 2 menit. Di tengah peristiwa dahsyat tersebut, nasib mujur menaungi Jody Maulana (14). Siswa kelas 2 SMP 25 Padang yg saat kejadian berada di lantai 2 gedung bimbel GAMA yg hancur lebur. Saat gempa terasa menggoyang gedung berlantai 3 tersebut, Jody bersama 10 temannya berhamburan menuju lantai 1, belum sampai turun tiba2 tangga di hadapannya runtuh, suasana pun gelap mencekam. Tanpa pikir panjang Jody diikuti teman2nya merayap mencari celah ke lantai 3 sambil menyisihkan puing yg berserakan, disekelilingnya jerit tangis puluhan rekannya yg tertimpa reruntuhan terus terdengar. Bertahan 15 menit di atap, Jody pun berhasil turun melalui reruntuhan tembok gedung. Sampai dibawah, puluhan orangtua terlihat menangis histeris melihat anak2nya terkubur di dalam reruntuhan. “Temen2 di lantai 1 dan lantai 2 banyak yang terkubur.

Padahal ada 6 kelas yang sedang belajar, 1 kelas rata-rata 15-20 orang” ucap pelajar yang mengaku rajin I’tikaf pada bulan puasa tersebut dengan sedih. “Subhanallah.., jika melihat reruntuhan gedung GAMA sulit membayangkan masih ada yagn biss selamat. Itulah kehendak Allah, meski setiap manusia pasti akan menjumpai kematian, namun jika Allah belum berkehendak, sedahsyat apapun bencana yg menimpa niscaya tidak akan membahayakan sedikitpun.

Cara Alloh Memberi Sesuatu yang Lebih Baik

Ini cerita tentang Annisa, gadis kecil berusia lima tahun. Suatu sore, Annisa menemani Bundanya berbelanja di suatu supermarket. Ketika menunggu giliran membayar, Annisa melihat sebentuk kalung mutiara putih berkialuan, tergantung dalam kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Annisa sangat ingin memilikinya. Tapi, dia tahu, pasti Bundanya sangat keberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Bundanya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki berenda yg cantik.

Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya untuk bertanya Bunda bolehkah Annisa memiliki kalung ini? Bunda boleh mengembalikan kaos kaki yang tadi… Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari Annisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000,-. Dilihatnya mata Annisa yg memandangnya dengan penuh harap dan cemas.

Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tidak mau bersikap tidak konsisten. Oke…Annisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yg kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Bunda akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju?

Annisa mengangguk lega dan segera berlari irang mengembalikan kaos kaki ke raknya. Terimakasih. ..Bunda. Annisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya kalung itu membuatnya nampak cantik dan
dewasa. Dia merasa secantik Bundanya. Kalung itu tidak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepaskannya jika mandi atau berenang. Sebab, kata Bundanya, jika basah kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau…

Setiap malam sebelum tidur, Ayah Annisa akan membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya: Annisa…, Annisa sayang nggak sama Ayah? Tentu dong…Ayah pasti tahu kalau Annisa sayang Ayah! Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu… Yah…, jangan dong Ayah! Ayah boleh ambil Si Ratu boneka kuda dari nenek! Itu kesayanganku juga. Ya sudahlah sayang…nggak apa-apa! Ayah mencium pipi Annisa sebelum keluar dari kamar Annisa.

Kira-kira semingu berikutnya setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi: Annisa…, Annisa sayang nggak sama Ayah?
Ayah, Ayah tahu bukan kalau Annisa sayang banget sama Ayah?
Kalau begitu berikan pada Ayah kalung mutiaramu.
Jangan Ayah…, tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie
ini. Annisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya
bermain.

Beberapa malam kemudian, ketika Ayah memasuki kamarnya, Annisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Annisa rupanya menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam diatas pangkuan. Dari matanya, mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya. Ada apa Annisa, kenapa Annisa?

Tanpa berucap sepatah kata pun, Annisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya. Kalau Ayah mau… ambillah kalung Annisa. Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Annisa. Kalung itu di masukkan kedalam kantong celana. Dan dari kantong satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih…sama
cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Annisa.

Annisa… ini untuk Annisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau. Ya… ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Annisa.

Sahabat, demikian pula halnya dengan Allah. Terkadang Dia meminta sesuatu kepada kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau lebih naïf dari Annisa: menggenggam erat sesuatu yang kita amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangannya….

* **Finally…,*
*Jangan terlalu gembira atas apa yang diberikan padamu & jangan terlalu bersedih atas apa yang di ambil darimu ***
Mari wujudkan bantuan sebagai solidaritas sesama umat manusia mudah-mudahan Alloh memberi kesabaran,kekuatan lahir dan bathin bagi saudara-saudara kita yang sedang mendapat musibah dan mudah- mudahan Alloh memberi pahala dan ganti yang lebih baik dari musibah yang dialami
[Sumber: http://www.tijarotanlantabur.com%5D

Nasehat Kyai Hasan

Suatu ketika saat Kyai Hasan sedang duduk-duduk di depan rumahnya, tiba-tiba ada jenazah seorang laki-laki yang melintas menuju ke tempat pemakaman. Terlihat olehnya dibelakang jenazah itu seorang gadis kecil beserta para pengiring yang lain. Rambut gadis kecil itu tergerai dan tidak henti-hentinya ia menangis. Segera saja Kyai Hasan membuntuti iring-iringan jenazah tersebut dan mendekati gadis kecil yang masih menangis tak henti-hentinya.

Tatkala sudah dekat dengan gadis kecil itu, Kyai Hasan mendengar dengan jelas rintihannya, “Wahai ayah, belum pernah selama hidupku aku mengalami perasaan sedih seperti yang kualami sekarang ini”.
“Nak, belum pernah juga ayahmu mengalami kejadian yang menyusahkan seperti sekarang ini” sahut Kyai Hasan.

Setelah tiba di sebuah musholla, jenazah itu pun segera disholati dan kemudian dimakamkan. Usai acara pemakaman para pengantar pun segera kembali ke rumahnya masing-masing.

Esok harinya setelah setelah menjalankan shalat subuh Kyai Hasan kembali duduk-duduk santai di depan rumah. Namun selang beberapa lama kemudian, ia melihat seorang gadis kecil yang melintas depan rumahnya. Rupanya, ia adalah gadis yang kemarin ditinggal mati oleh ayahnya. Gadis kecil itu rupa-rupanya berjalan menuju tempat pemakaman.

Merasa ada gelagat yang kurang baik, segera Kyai Hasan mengikutinya dari kejauhan. Beliau ingin tahu apa sebenarnya yang ingin dikerjakan gadis kecil itu. Saat gadis kecil itu memasuki makam, Kyai Hasan mengintip dari tempat yang tersembunyi.

Tiba-tiba gadis itu memeluk nisan dan pipinya ditaruh diatas makam ayahnya, seraya berkata, “Wahai ayah, bagaimana tadi malam engkau menginap. Kemarin lusa aku masih mempersiapkan alas tidur untukmu. Lalu siapakah yang mempersiapkan alas tidurmu tadi malam? Kemarin lusa aku masih mempersiapkan lampu untuk menerangimu. Lalu siapakah gerangan yang mempersiapkan lampu untuk menerangimu tadi malam? Wahai ayah, ketika badanmu terasa pegal-pegal, seringkali aku memijat badanmu. Lalu siapa lagi sekarang yang akan memijat-mijatmu?”
“Wahai ayah” rintihnya kemudian, “Ketika engkau merasa haus, dengan segera aku mengambilkan minuman untukmu. Namun siapakah yang mengambilkan engkau minuman tadi malam? Ketika engkau merasa jemu dan penat tidur telentang, maka segera aku balikkan engkau agar nyaman. Namun siapakah tadi malam yang mau membalik tubuhmu agar nyaman?”
“Dengan perasaan belas kasih, kemarin aku masih memandangi wajahmu. Tapi sekarang siapa lagi yang akan memandangi wajahmu seperti itu? Saat engkau memerlukan sesuatu, engkau segera memanggilku. Tapi bagaimana dengan malam tadi, siapa yang engkau panggil? Bahkan kemarin lusa aku masih memasakkan makanan untukmu. Tapi masihkah engkau juga menginginkannya dan siapa yang akan menyiapkan makanan untukmu?”

Kyai Hasan tak sanggup lagi membendung air matanya saat mendengar rintihan gadis kecil itu. Air matanya berderai dengan derasnya membasahi pipinya. Ia langsung keluar dari persembunyiannya. “Janganlah engkau mengucapkan kata-kata seperti itu, Nak..” Hibur Kyai Hasan sambil mengusap rambut gadis kecil itu. “Namun katakanlah, “Wahai ayah, kemarin engkau masih menghadapkan wajahmu ke arah kiblat. Lalu masihkah kini wajahmu menghadap ke kiblat ataukah telah berpaling darinya? Wahai ayah, saat tubuhmu diletakkan di liang kubur masih tampak utuh. Masihkah sekarang keadaanmu seperti itu ataukah sudah habis dimakan ulat?”

“Ucapkan pula, Nak.. Para ulama mengatakan bahwa seseorang yang sudah mati itu pasti akan ditanyai tentang keimanannya. Diantara mereka ada yang bisa menjawab dengan benar tapi ada juga yang tidak bisa menjawabnya sama sekali. Adakah ayah termasuk diantara mereka yang bisa menjawabnya?”
“Meraka juga menjelaskan bahwa sebagian jenazah itu ada yang dijepit oleh liang kuburnya sendiri hingga tulang rusuknya hancur berantakan, tapi adakalanya yang merasa liang kuburnya sangat luas sekali. Lalu bagaimana dengan keadaan kubur ayah sekarang ini?”
“Begitu juga ada keterangan yang menyebutkan bahwa kubur itu acapkali diganti dengan taman-taman surga. Tapi adakalanya yang diubah menjadi jurang neraka. Lalu bagaimana dengan kubur ayah sekarang?”
“Keterangan lain yang dikatakan para ulama adalah bahwa kubur itu acapkali memeluk penghuninya sebagaimana seorang ibu yang memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Tapi adakalanya yang mendapat marah dari kuburnya hingga menjepit sampai tulang belulangnya berserakan. Adakah kubur ayah sekarang marah ataukah sebaliknya, memeluk ayah dengan kasih sayang?”
“Demikian juga bahwa para ulama telah menjelaskan, ketika seseorang telah memasuki kuburnya, maka bila dia sebagai orang yang bertakwa, ia akan menyesal karena merasa ketakwaannya belum seberapa. Begitu juga dengan orang yang durhaka, mereka akan menyesal karena semasa hidupnya tidak mau berbuat kebajikan. Lantas apakah ayah tergolong mereka yang menyesal karena tidak pernah berbuat kebajikan ataukah mereka yang menyesal karena merasa ketakwaannya belumlah seberapa?”
“Wahai ayah, cukup lama aku memanggilmu, tapi engkau tidak menjawab sedikitpun panggilanku. Ya Allah…Janganlah kiranya Engkau menghalangi pertemuanku dengan ayah di akhirat kelak..”

Usai Kyai Hasan mengajari seperti itu, gadis kecil tersebut menolehkan kepalanya seraya berkata, “Kalimat-kalimat yang engkau ajarkan itu sungguh menyejukkan hatiku. Sehingga hatiku sekarang merasa lebih tenteram dan memalingkan aku dari kelalaian.”

Melihat gadis kecil itu sudah tenang hatinya, segera saja Kyai Hasan mengantarnya pulang. Demikianlah mudah-mudahan kisah ini ada hikmah dan pelajaran berharga yang bisa kita renungkan bersama. Amin
(oleh: Dave Ariant Yusuf)

Ketika sampai pada suatu tempat dekat Badar, Rasulullah pergi lagi dengan untanya sendiri menemui seorang Arab tua. Kepada orang ini beliau menanyakan keberadaan kafilah Quraisy. Dari orang Arab tua itu diketahui, bahwa kafilah Quraisy berada tidak jauh dari tempat itu.

Lalu Rasulullah kembali menemui para sahabat, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Zubair bin’l-Awwam, Sa’d bin Abi Waqqash serta beberapa orang sahabat lainnya. Rasulullah menugaskan mereka untuk mengumpulkan berita-berita dari sebuah tempat di Badar. Hingga mereka kembali dengan membawa dua orang laki-laki asing. Dari kedua orang laki-laki ini Rasulullah mengetahui, bahwa pihak Quraisy kini berada di balik bukit pasir di tepi ujung Wadi.

“Berapa jumlah orang-orang Quraisy itu?” Tanya Rasulullah pada kedua laki-laki itu.
“Kami tidak tahu pasti berapa jumlah mereka” Jawab keduanya.
“Berapa ekor ternak yang mereka potong setiap hari?” Tanya Rasulullah kembali.
“Kadang sehari sembilan ekor, kadang sepuluh ekor ternak yang mereka potong,” jawab mereka.

Dengan demikian Rasulullah dapat menyimpulkan, bahwa jumlah mereka antara 900 sampai 1000 orang. Juga dari kedua laki-laki itu dapat diketahui bahwa bangsawan-bangsawan Quraisy juga ikut serta memperkuat kafilah Quraisy. Mau tidak mau, Rasulullah dan para sahabat harus berhadapan dengan suatu golongan yang jumlahnya tiga kali jauh lebih besar. Mereka harus mengerahkan seluruh semangat, harus mengadakan persiapan mental menghadapi kekerasan itu. Mereka harus siap menunggu suatu pertempuran sengit dan dahsyat, yang takkan dapat dimenangkan kecuali oleh iman yang kuat memenuhi kalbu, iman dan kepercayaan akan adanya kemenangan itu.

Rasulullah mengutus dua orang Muslimin berangkat menuju lembah Badr. Mereka berhenti diatas sebuah bukit tidak jauh dari tempat mata air, dikeluarkannya tempat persediaan airnya lalu mereka dengan air. Tiba-tiba mereka mendengar suara seorang budak perempuan, yang agaknya sedang menagih hutang kepada seorang wanita lainnya, yang lalu dijawab, “Kafilah dagang besok atau lusa akan datang. Pekerjaan akan kuselesaikan dengan mereka dan hutang segera akan kubayar”.

Kedua laki-laki itu kembali. Disampaikannya apa yang telah mereka dengar itu kepada Rasulullah. Tetapi, sementara itu Abu Sufyan sudah mendahului mencari-cari berita. Ia kuatir Muhammad akan sudah lebih dulu ada di jalan itu. Sesampainya di tempat mata air ia bertemu dengan Majdi bin ‘Amr dan menanyakan situasi disitu. Majdi menjawab bahwa ia melihat ada dua orang berhenti di bukit itu sambil ia menunjuk ke tempat dua orang laki-laki Muslim tadi berhenti. Abu Sufyanpun pergi mendatangi tempat perhentian tersebut. Dilihatnya ada kotoran dua ekor unta dan setelah diperiksanya, diketahuinya, bahwa biji kotoran itu berasal dari makanan ternak Yathrib (Madinah).

Cepat-cepat Abu Sufyan kembali menemui teman-temannya dan membatalkan perjalanannya melalui jalan semula. Dengan tergesa-gesa sekali ia memutar haluan melalui jalan pantai laut. Jaraknya dengan Rasulullah sudah jauh, dan dia dapat meloloskan diri.

Hingga keesokan harinya kaum Muslimin masih menantikan kafilah itu akan lewat. Tetapi setelah ada berita-berita bahwa ia sudah lolos dan yang masih ada di dekat mereka sekarang adalah angkatan perang Quraisy, beberapa orang dari kaum muslimin yang tadinya mempunyai harapan penuh akan mendapatkan harta rampasan, terbalik menjadi layu. Beberapa orang diantaranya bertukar pikiran dengan Rasulullah dengan maksud supaya kembali saja ke Madinah, tidak perlu berhadapan dengan mereka yang datang dari Mekkah hendak berperang. Ketika itu turunlah firman Allah:

“Dan ingatlah ketika Allah menjanjikan kepada kalian bahwa salah satu dari dua golongan yang kalian hadapi adalah untuk kalian, sedang kalian menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah yang untuk kalian, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir”. Q:S 8:7

Pada pihak Quraisy juga begitu. Perlu apa mereka berperang, perdagangan mereka sudah selamat? Bukankah lebih baik mereka kembali ke tempat semula, dan membiarkan pihak Islam kembali ke tempat mereka. Abu Sufyan juga berpikir begitu. Itu sebabnya ia mengirim utusan kepada Quraisy mengatakan, “Kalian telah berangkat guna menjaga kafilah dagang, orang-orang serta harta-benda kita. Sekarang kita sudah diselamatkan Tuhan. Kembalilah”. Tidak sedikit dari pihak Quraisy sendiri yang juga mendukung pendapat ini.

Tetapi Abu Jahal ketika mendengar kata-kata ini, tiba-tiba berteriak, “Kita tidak akan kembali sebelum kita sampai di Badar. Kita akan tinggal tiga malam di tempat itu. Kita memotong ternak, kita makan-makan, minum-minum khamr, kita minta biduanita-biduanita bernyanyi. Biar mereka itu mendengar dan mengetahui perjalanan dan persiapan kita. Biar mereka tidak lagi mau menakut-nakuti kita”.

Sebab pada waktu itu Badar merupakan tempat pesta tahunan. Apabila pihak Quraisy menarik diri dari tempat itu setelah perdagangan mereka selamat, bisa jadi akan ditafsirkan oleh orang-orang Arab bahwa mereka takut kepada Muhammad dan para pengikutnya. Ini berarti kekuasaan Muhammad akan makin terasa, ajarannya akan makin tersebar, makin kuat. Apalagi sesudah adanya satuan Abdullah bin Jahsy, terbunuhnya Ibn’l-Hadzrami, dirampasnya dan ditawannya orang-orang Quraisy.

Orang-orang Quraisy jadi ragu-ragu antara mau ikut Abu Jahal karena takut dituduh pengecut, atau kembali saja setelah kafilah perdagangan mereka selamat. Tetapi yang ternyata kemudian kembali pulang hanya Banu Zuhra, setelah mereka mau mendengarkan saran Akhnas bin Syariq, orang yang cukup meraka taati.

Pihak Quraisy yang lain ikut Abu Jahal. Mereka berangkat menuju ke sebuah tempat perhentian, di tempat ini mereka mengadakan persiapan perang, kemudian mengadakan perundingan. Lalu mereka berangkat lagi ke tepi ujung wadi, berlindung di balik sebuah bukit pasir.

Sebaliknya pihak Muslimin, yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan, sudah sepakat akan bertahan terhadap musuh bila kelak diserang. Oleh karena itu mereka punsegera berangkat ke tempat mata air di Badar itu, dan perjalanan ini lebih mudah lagi karena waktu itu hujan turun. Setelah mereka sudah mendekati mata air, Rasulullah berhenti.

Ada seseorang yang bernama Hubab bin Mundhir bin Jamuh, orang yang paling banyak mengenal tempat itu, setelah dilihatnya Rasulullah turun di tempat tersebut, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apa alasan tuan berhenti di tempat ini? Kalau memang ini adalah wahyu Allah, kita takkan maju atau mundur setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini hanya sekedar pendapat tuan sendiri dan sebagai suatu taktik perang?”

“Ini hanya sekedar pendapat saya dan sebagai taktik perang,” jawab Rasulullah. “Wahai Rasulullah,” katanya lagi. “Kalau begitu, tidak tepat kita berhenti di tempat ini. Mari kita pindah sampai ke tempat mata air terdekat dengan mereka, lalu sumur-sumur kering yang dibelakang itu kita timbun. Selanjutnya kita membuat kolam, kita isi sepenuhnya. Barulah kita hadapi mereka berperang. Kita akan mendapat air minum, mereka tidak.”

Melihat saran Hubab yang begitu tepat, Rasulullah dan kaum Muslimin segera pula bersiap-siap dan mengikuti pendapat teman mereka itu, sambil mengatakan kepada para sahabat bahwa beliau juga manusia biasa seperti mereka, dan bahwa suatu pendapat itu dapat dimusyawarahkan bersama-sama. Beliau tidak akan menggunakan pendapat sendiri di luar musyawarah dengan para sahabat. Beliau perlu sekali mendapat masukan-masukan positif dari sesama mereka sendiri.

Selesai kolam itu dibuat, Sa’ad bin Mu’adh mengusulkan, “Wahai Rasulullah” katanya, “Tidakkah kami perlu membuatkan kemah khusus untuk istirahat tuan serta kami siapkan kendaraan tuan. Kemudian barulah kami yang akan menghadapi musuh. Jika Allah memberi kemenangan kepada kita atas musuh kita, itulah yang kita harapkan. Tetapi kalaupun yang terjadi adalah sebaliknya, dengan kendaraan itu tuan dapat menyusul teman-teman yang ada di belakang kita. Wahai Rasulullah, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tinggal di belakang dan cinta mereka kepada Tuanku tidak kurang dari cinta kami ini kepada tuan. Seandainya mereka tahu bahwa tuan akan dihadapkan pada perang, niscaya mereka tidak akan berpisah dari tuan. Mereka benar-benar ikhlas berjuang bersama tuan.”

Rasulullah sangat menghargai dan menerima baik saran Sa’ad itu. Dibangunlah sebuah kemah untuk Rasulullah. Jadi bila nanti kemenangan bukan di tangan Muslimin, Rasulullah takkan jatuh ke tangan musuh dan masih akan dapat bergabung dengan para sahabat di Madinah.

Disini orang perlu berhenti sejenak dengan penuh kekaguman, kagum melihat kesetiaan Muslimin yang begitu dalam, rasa kecintaan mereka yang begitu besar kepada Rasulullah Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam, serta dengan kepercayaan penuh kepada ajarannya. Mereka semua mengetahui, bahwa kekuatan Quraisy jauh lebih besar daripada kekuatan mereka, jumlahnya tiga kali lipat banyaknya. Sungguhpun demikian, mereka sanggup menghadapi, mereka sanggup melawan. Dan mereka inilah yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan dari kafilah dagang Abu Sufyan. Namun begitu bukan karena pengaruh materi itu yang mendorong mereka siap bertempur disisi Rasulullah, memberikan dukungan serta kekuatan. Disisi lain mereka yang juga sangsi, antara harapan akan menang, dan kecemasan akan kalah. Tetapi pikiran mereka selalu hendak melindungi dan menyelamatkan Rasulullah dari tangan musuh. Mereka menyiapkan jalan bagi Rasulullah untuk menghubungi orang-orang yang masih tinggal di Madinah. Suasana yang bagaimana lagi yang lebih patut dikagumi daripada ini?

Selanjutnya pihak Quraisy sudah turun ke medan perang. Mereka mengutus orang yang akan memberikan laporan tentang keadaan kaum Muslimin. Mereka lalu mengetahui, bahwa jumlah kaum Muslimin lebih kurang tiga ratus tiga belas orang, tanpa pasukan pengintai, tanpa bala bantuan. Tetapi mereka adalah orang-orang yang hanya berlindung pada pedang mereka sendiri. Tiada seorang dari mereka akan rela mati terbunuh, sebelum dapat membunuh lawan.

Ketika sampai pada suatu tempat dekat Badar, Rasulullah pergi lagi dengan untanya sendiri menemui seorang Arab tua. Kepada orang ini beliau menanyakan keberadaan kafilah Quraisy. Dari orang Arab tua itu diketahui, bahwa kafilah Quraisy berada tidak jauh dari tempat itu.

Lalu Rasulullah kembali menemui para sahabat, diantaranya Ali bin Abi Thalib, Zubair bin’l-Awwam, Sa’d bin Abi Waqqash serta beberapa orang sahabat lainnya. Rasulullah menugaskan mereka untuk mengumpulkan berita-berita dari sebuah tempat di Badar. Hingga mereka kembali dengan membawa dua orang laki-laki asing. Dari kedua orang laki-laki ini Rasulullah mengetahui, bahwa pihak Quraisy kini berada di balik bukit pasir di tepi ujung Wadi.

“Berapa jumlah orang-orang Quraisy itu?” Tanya Rasulullah pada kedua laki-laki itu.
“Kami tidak tahu pasti berapa jumlah mereka” Jawab keduanya.
“Berapa ekor ternak yang mereka potong setiap hari?” Tanya Rasulullah kembali.
“Kadang sehari sembilan ekor, kadang sepuluh ekor ternak yang mereka potong,” jawab mereka.

Dengan demikian Rasulullah dapat menyimpulkan, bahwa jumlah mereka antara 900 sampai 1000 orang. Juga dari kedua laki-laki itu dapat diketahui bahwa bangsawan-bangsawan Quraisy juga ikut serta memperkuat kafilah Quraisy. Mau tidak mau, Rasulullah dan para sahabat harus berhadapan dengan suatu golongan yang jumlahnya tiga kali jauh lebih besar. Mereka harus mengerahkan seluruh semangat, harus mengadakan persiapan mental menghadapi kekerasan itu. Mereka harus siap menunggu suatu pertempuran sengit dan dahsyat, yang takkan dapat dimenangkan kecuali oleh iman yang kuat memenuhi kalbu, iman dan kepercayaan akan adanya kemenangan itu.

Laman Berikutnya »